Orang Tua Setiap Hari Ribut

Ricky menghabiskan masa kecilnya di tengah keluarga yang broken home. “Masa kecil saya kacau banget. Orang tua saya setiap hari pasti ribut. ribut, dan ribut. Karena itulah, keributan menjadi hal biasa bagi saya,” ungkap Ricky. Selain broken home, Ricky kecil juga harus menghadapi kenyataan pahit jarang berkumpul dengan orang tua. Penyebabnya adalah karena dirinya sering dititipkan ke kerabat, dan otomatis ia selalu berpindah. Memasuki masa SMA Ricky mulai mencoba merokok. Kondisi mental yang sedang kacau ditambah pergaulan yang tidak baik, membuat kebiasaan merokoknya semakin menjadi. Awalnya orang tua Ricky tidak mengijinkannya merokok, tetapi akhirnya mereka menyerah. Menurut Ricky, awal dari kebiasaan memakai narkoba adalah merokok. “Soalnya waktu saya pusing, saya isep rokok. Kalau sudah gak mempan, saat itulah mulai mencoba-coba narkoba. Dan rata-rata tipikal pecandu narkoba di Indonesia seperti itu, diawali dengan kebiasaan merokok.” terang Ricky sambil menyeruput jus jeruknya.

Saat menginjak bangku SMA, Ricky pertama kali mencoba narkoba. “Kira-kira tahun 80-an. Waktu itu zamannya megadon (jenis narkoba, Red.), jadi saya pertama kali nyoba ya megadon (Mg) itu. Pertama kali nyoba sih rasanya pusing, bawaannya males banget, pokoknya gak enak banget deh, tuturnya mengenang.

Walau begitu Ricky tetap saja mengkonsumsi obat terlarang, sampai akhirnya ia pun kecanduan. Kondisi ini diperparah oleh lingkungan tempat tinggalnya. “Saya kenal narkoba pada saat saya tinggal di daerah PB, di Gg K. Gang itu tuh emang sarangnya bandar narkoba. Apalagi daerah sekitar rumah seperti Pc, KG, Ktn, BT (area di Jakarta Pusat, Red.). Semuanya daerah drugs.” ungkap penggemar klub sepakbola AC Milan ini.

Jadi Preman karena Narkoba

Mengkonsumsi Mg, jelas Ricky, membuat emosinya tinggi dan tidak stabil. Akibatnya, Ricky jadi sering ribut dengan orang lain dan selalu mengarah ke kontak fisik. Mulailah Ricky menekuni karirnya sebagai preman. Bersama teman-temannya, Ricky selalu meminta uang keamanan ke toko-toko di daerah PB. “Hasilnya saya pakai mabok sama teman-teman.” papar Ricky mengingat masa lalunya.

Memasuki masa kuliah, kebiasaan Ricky mengkonsumsi narkoba makin parah. la pernah tidak sadarkan diri selama sehari penuh karena meminum Mg dan menghisap ganja seukuran rokok kretek bersama temannya. Makin lama kebiasaannya ini membuat otaknya tidak dapat berpikir. Akhirnya ia keluar dari kuliahnya di salah satu universitas di kawasan Kuningan, Jakarta.

Sembuh Ditolong Teman Satu Gereja

Ricky menganggap dirinya masih disayang Tuhan. Karena di tengah keterpurukannya menjadi pecandu narkoba dan keluarga berantakan, masih ada orang yang mau menolongnya. Orang itu bernama ST, temannya di gereja. ST-lah yang mengajak Ricky untuk mengikuti acara gereja yang bernama TC, acara khusus untuk pemuda yang sedang kecanduan narkoba dan ingin sembuh. “Akhirnya saya mendapat jamahan dari Tuhan Yesus Kristus di gereja tersebut dan saya langsung mengutarakan niat saya untuk sembuh di hadapan Tuhan. Setelah itu saya langsung mengikuti rehabilitasi. Waktu itu saya dikarantina selama tiga bulan di daerah Cibubur, di bawah pengawasan pendeta dan pembina.” tutur Ricky.

Terapi yang dijalankan Ricky tidak melibatkan dokter sama sekali, karena waktu itu dokter khusus kecanduan narkoba belum ada di tempat rehabilitasi tersebut. la hanya mendapatkan segelas susu ketika tubuhnya mulai sakaw atau ketagihan. Awalnya susu itu pasti dimuntahkan kembali. Tetapi pembina di sana tetap membiarkan pasien mengalami sakaw, sampai sakawnya lewat. “Seperti itu setiap kali saya sakaw. Walaupun saya pingsan, atau mengerang kesakitan yang diberi ya hanya segelas susu,” Ricky menambahkan.

Pergi ke Amerika

Setelah mengikuti karantina pada tahun 85-an, kondisi kesehatan Ricky berangsur pulih. la tidak lagi memakai narkoba jenis apapun. Walaupun berulang kali ia mendapat godaan dari temannya, bahkan sampai dipukuli, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak memakai narkoba lagi. Waktu luangnya digunakan untuk bekerja. Sampai pada suatu saat, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang mempunyai piutang cukup besar yang macet selama dua tahun lebih. Kebetulan, ia memiliki teman seorang debt collector [penagih hutang, Red.). la lantas meminta bantuan temannya untuk menagih. Tidak disangka, dalam kurun waktu dua hari orang tersebut langsung melunasi utangnya, padahal hanya melalui dialog, bukan pendekatan fisik. Akhirnya Ricky mendapat bonus, ia diberi kebebasan untuk beiiibur ke luar negeri selama dua minggu, sebuah pengalaman yang ia anggap sebagai mujizat dari Tuhan Yesus Kristus. “Saya akhirnya milih Amerika, karena saya ingin sekali ke sana dan saya memang belum pernah ke sana,” ujar Ricky sambil tersenyum.

Akhirnya Ricky ke Amerika, dan menghabiskan waktu dua minggu bertamasya. Satu hari sebelum kepulangannya, Ricky berubah pikiran. la ingin menetap di Amerika. “Saya mutusin untuk tinggal lebih lama di Amerika, saya pengen sekolah di sana. Padahal waktu itu duit saya tinggal 100 dolar. Tapi karena bayar sekolahnya bisa dicicil, akhirnya saya berani. Duit saya yang tinggal 100 dolar itu, saya bikinin SIM sama KTP plus merubah visa saya dari visa kunjungan wisata ke visa pelajar, waktu itu kita tinggal nambah 45 dolar. Setelah surat itu jadi semua, saya langsung kerja jadi supir delivery service (layanan hantar, Red.) di Pizza Hut. Gajinya saya gunakan untuk bertahan hidup sama kuliah. Sejak itulah saya bisa kuliah di Amerika dan hidup selama kurang lebih 5 tahun di sana” ungkap Ricky panjang lebar. Di negeri Paman Sam itu, Ricky mengambil kuliah ekonomi. la tinggal di Los Angeles. Selama kuliah, ia juga mengikuti ekstra kulikuler sinema. Karena itulah ketika Ricky kembali ke Indonesia, ia langsung bekerja di salah satu rumah produksi terkenal di tanah air.

Membina Anak Jalanan Korban Narkoba

Saat ini Ricky disibukkan dengan aktivitas sosialnya membina anak-anak jalanan korban narkoba, bersama dengan rekan-rekannya dalam satu perkumpulan. Sebuah tempat di salah satu pusat perbelanjaan menjadi tempat nongkrong perkumpulan ini. Selain itu, Ricky juga tengah sibuk dengan Event Organizer (EO) miliknya yang bernama SME. Di bawah bendera SME, Ricky menangani sejumlah artis antara lain Sonja dan grup musik Senyawa.

Ricky bercita-cita memiliki rumah sebagai tempat singgah untuk anak-anak pecandu. “Saya pengen mereka semua bisa punya skill  dan pekerjaan tetap. Sehingga mereka bisa berguna dan bergabung lagi ke masyarakat. Jadi saya gak cuma nyadarin mereka untuk sembuh. Buat apa kalo setelah sembuh mereka gak bisa ngapa-ngapain?” Ricky mencurahkan pandangannya.

“Say no to drugs, jangan takut dibilang banci kalo gak pake daripada hidup lu hancur dan terpuruk karena narkoba!” tegasnya mantap, menutup obrolan sore itu