MARCELLA, sebut saja begitu. Usiaku 28 tahun. Sobatku, please deh… jangan sekali-kali menyebut atau menulis nama asliku ya… bilang saja, aku Marcella.

Belakangan  ini beberapa tetangga menyebutku “si kemeja putih”. Sebab, aku memang kerap mengenakan kemeja putih lengan panjang supaya goresan-goresan di tanganku bekas ngobat enggak ketahuan. Pokoknya, kemeja lengan panjang.

Sungguh mengenaskan, betapa tidak perempuan berparas manis dan berkulit terang itu tampak ketakutan sekali disebutkan nama aslinya. Di rumah kontrakannya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dia tinggal bersama suami keduanya dan seorang anaknya.

Bertahun-tahun dia menyembunyikan alkisah kehidupan yang dirasakannya semakin rapuh. Hidupnya sudah sangat bergantung pada narkoba. Bahkan, diam- diam tanpa sepengetahuan suami keduanya yang berprofesi sebagai aparat keamanan, Marcella sebetulnya sudah mengidap HIV/AIDS (ODHA).

Kok bisa begitu? Beginilah kisahnya.

Sejak duduk di bangku SMA di sebuah sekolah swasta di Jakarta Timur, Marcella mulai berkenalan dengan rokok. Entah bagaimana, ujar wanita itu, kenikmatan merokok terlihat jelas, ketika teman-temannya mulai mengisap rokok. Dia pun ikut- ikutan mencicipi rokok.

Suasana keras peraturan sekolah rupanya tidak dipedulikannya. Dia malah makin berani merokok meski harus merokok secara sembunyi-sembunyi di kamar mandi, di pojok pelataran sekolah, serta sepulang sekolah.

“Terus terang, sejak papa dan mama mulai kurang memerhatikan kehidupan keluarga, aku mulai suka bergaul seenaknya. Orangtuaku enggak tahu tuh kalau aku juga sering nenggak inex (bahasa gaul dari ekstasi),” kata Marcella.

Waktu terus bergulir. Lulus SMA, Marcella melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Jakarta Barat.

Pergaulan yang semakin bebas, apalagi urusan waktu kuliah yang tidak selalu sama seperti masa-masa SMA, membuat Marcella tergoda mencicipi jenis narkoba lainnya.

Bukan cuma inex, Marcella pun sudah mencicipi putau, ganja, bahkan kokain. “Asyik banget. Pikiran rasanya plong, seakan lepas dari berbagai masalah yang menghadang di depan kita,” kata Marcella, sambil sedikit tersenyum.

Sambil melihat siaran televisi yang tiba-tiba menyajikan berita penangkapan bandar yang memproduksi ribuan pil ekstase, lalu disusul tayangan penyelundupan ganja kering dari Aceh, Marcella malah menyebutkan, penangkapan demi penangkapan selalu disiarkan. Bosan, satu ditangkap, bandar lainnya malah semakin dibiarkan bebas bergerak.

Buktinya?

Marcella pun lugas menjawab, “Buktinya, saya masih bisa dapat barang-barang itu begitu mudah! Bebas bergerak ke sana kemari.”

“Sampai-sampai,” lanjut Marcella, “entah bagaimana akhirnya virus HIV/AIDS menyerang tubuh saya. Sst… kamu diam-diam ya, suami saya yang ini enggak tahu lho.”

Selintas Marcella terdiam. Dia teringat suaminya yang belum setahun ini meninggal dunia. Banyak orang bilang bahwa suaminya meninggal akibat serangan nyamuk malaria.

Padahal, sekali lagi dia menyuruh diam saja karena sebetulnya suami pertamanya meninggal akibat virus HIV/ AIDS.
“Dulu, pertama kali kenalan, kami memang sudah sama- sama menenggak narkoba. Akhirnya aku mengetahui, begitu mengerikannya penyakit itu. Tubuh suamiku terbaring lemah. Menjelang akhir hidupnya, darah mengucur dari kelamin,” kenang Marcella, sambil mengusap air matanya.

Dokter bilang, lanjut Marcella, jaringan tubuh suaminya makin rusak. Sebab, virus itu menyerang sel darah yang bertugas menjaga kekebalan terhadap serangan penyakit atau bakteri yang merugikan tubuh. Serangannya begitu ganas.

Marcella kini masih bingung. Kematian suami pertamanya meninggalkan dua anak yang lucu-lucu. Ketidakmampuan ekonomi membuat seorang anaknya sengaja dititipkan kepada orangtuanya. Entahlah, apakah kelak anak-anaknya juga mengidap virus HIV/AIDS atau tidak?

Tidak tega

Orangtua kita tidak akan tega melihat penderitaan anak- anaknya yang makin keranjingan narkoba. Kalau Marcella masih bisa “terbang” bebas menikmati narkoba, Bagas (sengaja namanya disamarkan) tidaklah demikian.

“Karena ulahku pakai narkoba, mamaku terus menangis sepanjang hari,” kenang Bagas (17). Siswa SLTA swasta itu sedikit demi sedikit mengisahkan kehancuran dirinya. Dia baru saja pulang dari tempat rehabilitasi pencandu narkoba.

Tahun 2003 dia tertangkap di pusat perbelanjaan. Razia polisi memang gila- gilaan. Bagas tertangkap sewaktu bertransaksi ganja kering.

Siang itu juga Bagas digiring ke sel tahanan kepolisian. Selinting ganja kering langsung dijadikan barang bukti. Hari itu juga Bagas merasakan pengapnya ruang penjara. Siang terasa panas, malam terasa dingin. Jeruji besi membatasi ruang gerak.

“Ngeri banget deh. Saya kapok. Setiap menit, pikiran saya cuma meminta dibebaskan dari penjara,” kata Bagas, yang mengaku setiap malam merasakan tikus-tikus bebas melintas di atas kakinya.

Penjara menjadi seperti neraka. Mama dan papa, serta paman, hampir setiap hari menjenguk untuk sekadar membawakan makanan. Tak terasa, satu bulan tinggal di balik jeruji besi, menunggu sidang pengadilan.

“Satu bulan ini saya mengeluarkan uang jutaan rupiah. Bukan cuma untuk membeli makanan untuk anak saya, tetapi juga untuk uang rokok polisi yang berjaga lho,” kata ibu Bagas, yang minta dirahasiakan identitasnya.

Akhirnya, Bagas dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Bagas semakin takut, waktu berlalu, persidangan kasus narkoba ini pun digelar.

“Pasti, tidak ada satu pun orangtua di dunia ini yang ingin membiarkan anaknya mendekam di penjara. Kalau perlu, uang puluhan bahkan ratusan juta akan dikeluarkan demi membebaskan atau setidaknya meringankan hukuman anaknya,” kata ibu Bagas.

Sebelum persidangan digelar, ibu Bagas yang sudah pinjam uang sana-sini berusaha menemui oknum jaksa penuntut umum. Waktu itu dia memberikan uang sekitar Rp 20 juta. Uang cash itu sudah terbungkus rapi di dalam sebuah amplop.

“Paling tidak, uang ini saya serahkan untuk sekadar meringankan hukuman,” kata ibu itu yang tidak menyebutkan nama oknum penegak hukum yang dimaksud.

Agaknya pantas diingat, tahun 1990-an seorang rocker cantik, Nicky Astria, dalam sebuah lagunya begitu keras melantunkan:

Jarum-jarum setan suka mencabut nyawa//Bila kau tak sadar berhenti memakainya//Tanpa kau sadari, tanpa engkau rasakan//Kau bunuh dirimu secara perlahan….

sumber: www.bnn.go.id