Banyak remaja mencoba narkoba, tanpa tahu bahayanya. Buku Go Ask Alice (PT Gramedia Pustaka Utama, 2004) ini mengungkap catatan harian Alice, seorang remaja putri Amerika, yang terjerat obat-obatan terlarang.

 Terbit pertama kali 30 tahun lalu, goresan tangan Alice tetap terasa menyengat. Alice sendiri ditemukan tewas tiga minggu setelah memutuskan tak menulis lagi di buku hariannya. Tak jelas dan tak ada yang tahu apa penyebab kematiannya.

 ***

Aku ingat, kemarin kuanggap diriku orang paling bahagia sedunia, segalaksi, di antara semua makhluk ciptaan Tuhan. Belum pernah kurasakan rumput seharum saat itu, dan langit setinggi itu. Roger mengajakku kencan! Aku serasa mau mati karena senangnya. Jadi, aku membeli diary (buku harian) ini, sebab kupikir aku punya cerita luar biasa yang layak disampaikan.

 Tapi sekarang, semuanya serasa runtuh. Roger tak jadi datang. Kenapa ia setega itu? Aku tak pernah sengaja menyakiti siapa pun, baik secara fisik maupun emosional. Lalu kenapa orang-orang begitu senang menyakiti aku? Bahkan kedua orangtuaku memperlakukan seakan-akan aku ini bodoh. Kurasa aku takkan pernah bisa memenuhi harapan siapa pun, termasuk harapanku sendiri.

Semua lancar

 Dua hari lagi ulang tahunku yang ke-15 tiba. Ada berita bagus, diary. Kami akan pindah. Dad diundang jadi dekan ilmu politik di sebuah universitas di Eropa. Mungkin Dad akan mengajar di Eropa tiap musim panas, dan kami bisa ikut dengannya. Aku akan diet mulai hari ini dan memperbarui koleksi pakaianku. Aku akan jadi benar-benar beda saat tinggal di rumah baru.

 Mom dan Dad sudah menemukan rumah baru, besar dan bergaya Spanyol. Adik- adikku, Tim dan Alexandria, tiba-tiba jadi manis dan tak merecokiku. Sekolah pun kembali jadi acara menyenangkan. Aku mendapat nilai A, bahkan untuk aljabar yang sebenarnya sulit. Aneh ya, sepertinya kalau satu hal lancar, hal lain ikut lancar. Bahkan hubunganku dengan Mom jadi lebih baik.

 Aku merasa lebih dekat denganmu, diary, daripada dengan Debbie, Marie, dan Sharon – teman-teman karibku. Terkadang aku sangat ingin punya pacar yang bisa kuajak bicara. Tapi orangtuaku tak setuju, dan jujur saja, tak pernah ada yang tertarik serius padaku. Mungkin juga tak akan pernah ada. Kalau sudah begitu, aku ingin sekali jadi populer, cantik, kaya, dan pintar.

 Natal! Aku sangat bahagia, dadaku serasa akan meledak. Aku mendapat hadiah buku, kaset, dan rok yang sangat kusukai. Mom sangat senang dengan hadiah bros dariku, sehingga dipakainya sepanjang hari. Nenek dan kakek berkunjung, juga Paman Arthur, Bibi Jeannie, dan sepupuku. Kalau saja perasaan ini bisa dialami sepanjang waktu. Ah, aku tak rela hari ini cepat berakhir.

 Pesta tahun baru di rumah Scott. Aku pulang lebih awal dengan alasan tak enak badan, tapi sebenarnya aku berdebar-debar memikirkan akan pindah dua hari lagi. Aku tak berani mengatakan ini pada siapa pun, diary, karena aku tak terlalu yakin bakal betah di kota baru itu. Oh Tuhan, tolonglah aku menyesuaikan diri, agar aku diterima, bantu aku agar kerasan, jangan biarkan aku dikucilkan dan jadi beban keluargaku.

Beratnya kota baru

 Kini aku sudah berada di kota baru. Diary, aku sangat menderita di sekolah. Tempat paling sepi dan dingin di dunia. Tak seorang pun mengajakku bicara selama sehari yang panjang. Aku sedih sekali. Tim, Alexandria, dan Mom sudah dapat teman baru. Ibarat minyak dan air, aku tak bisa menyesuaikan diri.

 Setelah tiga bulan, aku baru mendapat teman. Dia sama jelek dan canggungnya denganku. Benar juga kata pepatah, seseorang akan bergaul dengan orang-orang yang mirip dengannya. Suatu hari, Gerta menjemputku untuk ke bioskop, tapi keluargaku kasar sekali padanya. Mom menyindir temanku yang tak menarik dan biasa-biasa saja. Tak sadar bahwa anak perempuannya juga seperti itu. Mom yang necis, langsing, memikat serta istri profesor hebat, juga selalu membanding- bandingkan aku dengan Tim dan Alexandria. Sepertinya, aku tak memenuhi standarnya.

 Dua bulan kemudian, aku berkenalan dengan anak perempuan lain yang tinggal tiga blok dari kami. Beth Baum baik sekali, agak pemalu, dan lebih suka membaca buku daripada bertemu orang. Ayahnya dokter, jarang di rumah, persis Dad. Ibunya sering mengomel. Mom pasti bangga sekali denganku. Beth datang ke rumah untuk belajar bersama, dan keluargaku menyukainya! Mereka bahkan memintanya menelepon orangtuanya untuk makan malam dan berbelanja bersama kami!

 Beth teman yang menyenangkan. Ia mungkin satu-satunya karib yang kumiliki sejak kanak-kanak. Kami terbuka soal apa saja, termasuk kepercayaan Yahu- diIbrani yang ia anut, dan kakek-neneknya yang Ortodoks. Kalau saja aku tahu lebih banyak tentang agamaku, aku akan bisa ganti bercerita. Beth mengatur kencan untukku dengan Sammy Gran yang sopan, sehingga orangtuaku menyukainya. Padahal, begitu kami di mobil, kedua tangannya mulai gentayangan.

Api kampung halaman

 Musim panas tiba. Aku berlibur di rumah nenek dan belum pernah sebosan ini. Membaca, nonton teve, malas-malasan di tempat tidur. Aku benar-benar kehabisan kegiatan. Sharon sudah pindah, Debbie asyik pacaran, dan Marie berlibur bersama keluarga. Namun 10 hari kemudian, aku bertemu Jill Peters yang mengajak ke pesta kecil di rumahnya!

 Anak-anak di pesta sangat ramah, hingga aku kerasan. Tak lama Jill dan seorang cowok mengeluarkan senampan Coke. Semua anak bergelimpangan di lantai beralas bantal atau meringkuk bersama di sofa dan kursi.

 Jill mengedip padaku, “Malam ini kita akan bermain ?kancing?. Ingat ?kan permainan kita waktu kecil?” Semua orang saling memandang. Aku memusatkan perhatian pada Jill dan berniat me-niru apa pun yang ia lakukan. Tiba-tiba aku merasa seperti ada badai di tubuhku. Semua orang mulai memandangiku. Kedua telapak tanganku berkeringat, begitu juga kulit kepala dan tengkuk.

 Ruangan terasa sangat hening, ketika Jill bangkit untuk menutup tirai rapat-rapat. Otot di sekujur tubuhku menegang, dan perasaan aneh menyelimutiku, mencekik, membuatku sesak napas. Ketika kubuka mata, ternyata Bill Thompson merangkul bahuku. “Beruntungnya kamu ini,” katanya. “Tapi jangan khawatir, aku akan menjagamu. Perjalanan ini akan menyenangkan, ayo santailah, nikmatilah.”

 Pola-pola aneh berubah-ubah di langit-langit, berubah jadi warna-warna berputar- putar, semburat-semburat raksasa merah, biru, kuning. Setelah melewati saat- saat yang seolah tiada akhir, aku mulai turun dari perasaan melayang itu dan pesta pun usai. Kata Jill, 10 dari 14 botol Coke itu diberi LSD, dan siapa yang dapat “kancing”? Wow, aku! Sangat menyenangkan, mengasyikkan! Namun, kurasa aku tak bakal mencoba lagi.

 Diary tersayang, minggu ini sungguh fantastis, luar biasa, menggairahkan, mendebarkan. Ingat ?kan, aku kencan dengan Bill? Ia memperkenalkan aku dengan Torpedo pada Jumat, dan Speed di hari Minggu. Rasanya seperti menunggang bintang jatuh di Bima Sakti. Mulanya, aku agak takut mencoba Speed karena Bill harus menyuntikkannya di lenganku. Aku hampir tak bisa mengendalikan diri, menari-nari dengan gaya yang tak terbayang berani dilakukan oleh aku yang tertutup dan pemalu ini. Liar! Indah!

 Tiga hari kemudian, Bill meneleponku mengajak kencan. Aku memenuhi ajakan Bill, tapi aku akan jadi penjaga saja kalau ia teler. Di rumahnya yang kosong, karena ditinggal keluarganya yang sedang keluar kota, sudah ada enam anak lainnya. Semua ingin teler dengan Acid, maka kuputuskan ikut juga. Janji, untuk terakhir kalinya. Buntutnya, aku tak perawan lagi! Dari satu segi, aku sedih sekali, sebab sejak dulu aku ingin Rogerlah yang jadi cowok pertama dan satu-satunya dalam hidupku.

 Aku juga penasaran, apakah seks tanpa Acid akan sama menggairahkan dan indahnya. Sebelumnya, tak pernah terpikir olehku tentang hamil. Bill pasti tak bakal menikahiku, umurnya baru 15 tahun. Oh, rasanya aku ingin cepat pulang.

 Mom dan Dad bilang, aku sebaiknya pulang minggu depan saja. Tebak, siapa yang datang semalam? Roger dan orangtuanya menjenguk nenek yang kena serangan jantung. Perasaanku tak keruan, Roger ternyata tambah tampan. Roger bilang, ia selama setengah tahun ke depan akan masuk sekolah militer, sebelum siap kuliah. Lalu ia menciumku, ciuman seperti yang kuimpi-impikan. Menyiratkan rasa sayang, suka, gairah, hormat, kagum, lembut, dekat, dan rindu.

 Roger terus menyuratiku, tapi aku terlalu takut hamil, sehingga tak bisa tidur tanpa pil. Akhirnya, aku datang bulan! Belum pernah aku sebahagia ini. Sekarang aku tak perlu lagi menelan pil tidur dan obat penenang. Aku bisa kembali jadi diriku sendiri.

Bara kota baru

 Mom mulai cerewet lagi. Aku pergi ke sebuah butik kecil. Chris, cewek yang kerja di butik itu, mengajariku menggulung lurus rambutku. Aku sangat tertekan memikirkan Roger.

Ketika istirahat siang, kuceritakan kesedihanku pada Chris, yang langsung mengerti. Senangnya! Ia memberiku semacam permen kecil berwarna merah dan menyuruhku pulang. “Permen ini bakal membangkitkan semangatmu, kalau obat penenang ?kan meredam perasaanmu,” katanya.

 Di rumah, Dad dan Mom mengomel soal penampilanku yang menurut mereka mulai seperti hippie. Chris dan aku lalu mengobrol soal orangtua dan keluarga kami. Ayah Chris petinggi di perusahaan produk sereal. Ayahnya sering pergi keluar kota. Ibunya sangat aktif dalam kegiatan masyarakat. Chris bekerja karena tak tahan di rumah. Aku mulai merasakan hal sama. Chris bilang akan coba mencarikan pekerjaan untukku. Ini baru namanya hidup! Aku punya pekerjaan, bersama Chris di sebuah butik.

 Chris setahun lebih tua dariku. Kami kini termasuk dua cewek terpopuler di sekolah. Aku tahu penampilanku bagus sekali, langsing. Tiap kali lapar atau capek, aku cuma menelan sebutir Benny. Aku mesti minum Dexie biar tetap punya tenaga saat sekolah, kerja, kencan, dan bikin PR. Tapi di rumah, benar-benar bete. Dad menganggapku merusak citranya di universitas.

 Semalam benar-benar bersejarah. Aku mengisap ganja dari Richie, teman Chris yang tahu aku pernah mencoba Acid. Rasanya lebih luar biasa daripada yang kukira. Aku dan Chris jatuh cinta setengah mati pada Richie dan Ted yang sudah kuliah. Kami selalu ingin bersama. Karena tak pernah punya cukup uang, aku dan Chris terpaksa menjual sedikit ganja pada anak-anak yang memang pemakai berat. Aku meyakinkan Richie bahwa lebih mudah menjual Acid yang ditaruh di lembar perangko atau permen karet. Tak akan dicurigai polisi.

 Richie bisa mencarikan apa saja – ganja, LSD, DMT, amfetamin, barbs, meth. Menjual pada anak SMU atau SMP biasa kujalani, tapi hari ini aku menjual 10 LSD pada murid SD yang belum berusia sembilan tahun. Membayangkan anak-anak di bawah umur rusak karena narkoba membuatku muak. Kalau ada perlombaan tertolol, pasti aku pemenangnya. Apalagi saat Chris dan aku datang ke apartemen Ted dan Richie, memergoki kedua bajingan itu sedang teler sambil bercinta.

Jebakan San Fransisco

 Aku dan Chris duduk di taman. Kami mematangkan rencana kabur ke San Fransisco, dan aku mesti melaporkan Richie ke polisi. Bukan untuk balas dendam atau cemburu, tapi untuk melindungi anak-anak SD dan SMP.

 Di San Fransisco, kami tak kenal seorang pemakai pun, jadi akan lebih mudah agar tetap bersih. Chris punya AS $ 400 dan aku AS $ 130 yang seharusnya kusetorkan ke si bangsat Richie. Rasanya itu cukup sampai kami mendapat pekerjaan. Sementara, kami tinggal di apartemen satu kamar yang kotor, bau, dan pengap.

 Akhirnya, aku dapat pekerjaan di toko kecil sumpek yang menjual pakaian dalam. Gajinya sedikit, tapi lumayan utuk membeli makanan dan lain-lain. Chris masih mencari pekerjaan yang lebih bagus, karena dalam setahun kami berharap bisa buka butik sendiri. Ia akhirnya diterima di butik kecil bagus di daerah eksklusif. Ia belajar banyak tentang jual-beli dan cara menata barang jualan pada pemiliknya, Shelia, wanita tercantik yang pernah kulihat.

 Aku berjanji takkan pernah lagi memakai obat terlarang dalam keadaan apa pun, yang jadi akar penyebab permasalahanku sekarang. Aku mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik di toko batu permata milik Ny. Mellani yang ramah. Ia mengundangku makan malam pada hari Minggu. Ny. Mellani dan anak-anaknya persis seperti keluarga Italia di film-film. Ia pintar memasak. Belum pernah aku melihat keluarga yang begitu hangat dan akrab.

 Gantian Shelia mengundang kami ke pesta tengah malam di apartemennya yang indah dengan pemandangan luar biasa. Bel pintu berdentang, dan tamu-tamu cantik dan tampan berdatangan. Lalu aku mencium bau itu. Chris yang ada di seberang ruangan kulihat menoleh. Dia pun rupanya mencium bau itu. Ketika aku berbalik, seorang pria menyodorkan selinting ganja padaku … dan begitulah.

 Lalu datang Rod, pacar baru Sheila, memperkenalkan kami pada heroin dan Smack yang memberikan sensasi luar biasa. Begitu sadar, kedua bangsat itu telah memperkosa kami secara sadis dan brutal. Harga yang kami bayar terlalu tinggi. Chris dan aku memutuskan meninggalkan kehidupan kacau ini. Kami punya AS $ 700, mungkin cukup untuk membuka butik di daerah yang tak terlalu mahal. Kami menemukan apartemen mungil di Barkeley yang kami sulap jadi toko perhiasan bagi anak muda sekaligus tempat nongkrong.

 Suatu hari aku mendengar She’s Leaving Home dari stereo, dan air mata langsung membasahi pipi. Aku kesepian, sedih sekali. Tiga hari sebelum Natal, aku menelepon Mom. Ia senang sekali mendengar suaraku, menawari mengirimi uang dan meminta Dad menjemput. Aku bilang, uang kami cukup dan akan pulang dengan pesawat pertama malam ini. Kurasa ini sambutan paling meriah yang pernah ada. Kakek dan nenek bahkan menginap sampai Natal.

Surga dan neraka

 Minggu pertama Januari, aku sekolah lagi. Tapi esoknya Joe Driggs mendatangiku minta Chalk atau apa saja. Ada sekelompok berandalan yang berusaha memojokkan kami di sekolah, tapi Mom dan Dad serta orangtua Chris membesarkan hati kami.

 Minggu berikutnya, Lane memelintir tanganku sampai lebam, memaksaku mencarikan Cimeng (ganja). Siapa pun yang mengatakan kalau ganja dan Acid tak membuat ketagihan, berarti tolol dan tak mengerti. Aku dan Chris terjerat lagi.

 Lane kena ciduk semalam. Sepuluh hari kemudian rumah Chris digerebek saat orangtuanya keluar. Chris dan aku bersandiwara bahwa itu untuk pertama kalinya kami mencoba. Kami dapat hukuman percobaan untuk tak saling bertemu.

 Lalu aku mengambil AS $ 20 dari kantong celana Dad dan kabur ke Denver. Berganti-ganti tumpangan dan bergabung dengan anak jalanan ke Oregon, tidur di taman, meringkuk di semak sebelum akhirnya pergi ke gereja, dan disarankan ke Bala Keselamatan.

Tempat itu cukup menyenangkan. Di sana aku bertemu Doris. Dia menjalani kehidupan menyedihkan sejak usia 10 tahun. Ibunya sudah menikah empat kali, dan ayah tirinya mulai menggaulinya pada usianya 11 tahun. Lalu kedua abangnya dan temannya memperkenalkan Doris pada obat bius dan menjerumuskannya jadi lesbian. Sejak itu, ia bersedia buka celana bagi siapa saja.

 Dear diary, penyakit Doris ternyata menular. Aku akhirnya menjadi penjaja seks, dan terangsang juga pada cewek. Aku sempat bicara pada seorang pendeta tua yang benar-benar memahami anak-anak muda. Ia menelepon Mom dan Dad yang ternyata masih menginginkanku! Mereka menyayangiku! Tak ada kemarahan, tuduhan, dan nasihat. Minggu pertama April, dimulai diary baru dan hidup baru.

 Kakek dan nenek datang menjenguk cucunya yang hilang. Aku pun masuk sekolah lagi. Aku bertemu Jan di pusat kota, yang mengajakku “pesta” nanti malam. “Kami tahu kok, kamu pasti balik lagi,” katanya ketika kutolak, dan terus menggangguku di sekolah dengan mengatakan aku sok suci. Dad bilang, aku harus tabah dan dewasa, dan aku senang Dad peduli. Jan yang teler menggangguku saat menjaga bayi Ny. Larsen. Kesal, orangtuanya lalu kutelepon. Mereka memohon agar aku tak mengadu pada petugas pembebasan bersyarat yang menangani Jan.

 Tapi Jan balas dendam dengan mengancamku dan menyebarkan gosip yang membuat aku selalu dicemooh di sekolah maupun di jalan. Ada yang menaruh ganja menyala di lokerku. Bahkan seorang cowok mendorongku ke semak dan menciumku. Menjijikkan, tapi siapa yang akan menolongku? Untung aku berkenalan dengan Joel Reems di perpustakaan universitas. Ia cowok yang baik, membuatku ingin les piano lagi dan membantu Ny. Larsen memasak dan menjaga bayinya.

 Suatu ketika, aku masuk rumah sakit. Aku tak tahu, bagaimana Acid itu termakan olehku. Kata Dad, ada yang menaruhnya di kacang berlapis cokelat. Mom dan Dad percaya ada yang hendak mencelakaiku dengan obat bius.

 Aku dijebloskan masuk rumah sakit jiwa atas kesaksian Jan dan Marcie. Mereka bilang, aku sudah berminggu-minggu menjual LSD dan mariyuana pada mereka. Banyak perkataan yang memberatkan. Aku tak mengerti kenapa bisa begitu. Di Youth Centre aku berkumpul dengan sekitar 70 anak. Rasanya seperti gila sungguhan, menjalani peraturan dan sarapan yang tak sanggup kumakan. Aku berkenalan dengan Tom yang tampan dari keluarga bahagia yang terjerumus karena mencoba-coba.

 Satu-satunya hiburan, surat Joel yang membahagiakan. Ia hangat, baik hati, penuh maaf, sayang, dan pengertian. Dua minggu kemudian aku pulang. Kami sekeluarga mengikuti Dad yang mengajar dua minggu di kota lain menggantikan rekannya. Keluargaku menyiapkan kejutan menyenangkan untukku di hari ulang tahun. Mereka mendatangkan Joel, yang mencium bibirku di hadapan mereka!

 Dulu, kupikir aku akan membeli buku harian lain setelah kamu penuh. Tapi kini rasanya tidak, orang harus mampu membahas masalah dan pikirannya dengan orang lain. Bukan dengan bagian lain dirinya, seperti halnya aku dan kamu.

 Tak ada yang menyangka, ternyata itu menjadi kalimat terakhir yang ditulis Alice. Kalimat penutup “drama” yang dapat menjadi pelajaran buat “Alice-Alice” yang lain