Waktu itu hari Selasa. Aku sengaja turun di halte sebelum halte seharusnya. Di tempat biasa dia ada. Ya, aku ingin lihat dia.

 Biasanya dia ada dipinggir jalan itu. Tepat sebelum tikungan ke kiri. Dengan tenangnya bermain biola. Gayanya tak kalah keren dengan seorang maestro ternama. Entah siapa namanya, sampai sekarang aku tidak pernah tahu.

 Walaupun dia seorang seniman jalanan, tapi auranya tak bisa dipungkiri lagi. Tak sedikit pula orang yang lalu lalang berhenti sejenak mendengarkan dan menyisihkan uang untuknya.

 Aku memanjangkan leherku, mencari-cari sosoknya di sana. Dan ketemu! Senyumku pun langsung mengembang. Oooh…tampannya!

Langsung saja aku mencari tempat aman. Tempat dimana aku bisa memperhatikannya dengan lebih jelas, dan mengambil fotonya (lagi) tanpa harus diketahui olehnya.