Latest Entries »

Hai…. !!

Welcome to my blog ^_^

Blog ini sebenernya pernah error. akhrinya saya memutuskan untuk memindahkan sebagian isinya ke blog baru dengan nama .

Karena ketertarikan saya yang tiba – tiba terhadap dunia narkotika, jadi blog ini saya khususkan untuk menampung semua informasi tentang narkotika.

semoga bermanfaat.

Happy reading! ^_^

mari MERAIH MIMPI..!!!

Let’s Sing this Song, yeeeaaahhh….!!!!
~(ˆ⌣ˆ~)(~ˆ⌣ˆ)~

Mari berlari meraih mimpi
Menggapai langit yang tinggi
Jalani hari dengan berani
Tegaskan suara hati
Kuatkan diri dan janganlah kau ragu
Tak kan ada yang hentikan langkahmu

Reff : ya..ya..kita kan terus berlari
Ya..ya..tak kan berhenti di sini
Ya..ya..larilah meraih mimpi
Ya..ya..hingga nafas tlah berhenti

Ku akan bertahan
Hadapi rintangan
Perlahan-lahan dan menang
Jalani hari dengan berani
Tegaskan suara hati

Kuatkan diri dan janganlah kau ragu
Tak kan ada yang hentikan langkahmu

Tak ada yang tak mungkin
Bila kita yakin
Pastilah engkau dapati

J-Rocks

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊•kekke & jekko•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Agak berat untuk mengingat masa lalu yang saya alami. Sedikit takut memang. Entah kenapa, ketika ingin bercerita saya harus berpikir keras. Sebagai seorang wanita, banyak yang telah saya alami dalam hidup ini, hidup yang tergolong kacau dan bandel. Khususnya tentang masalah narkoba. Dikerjain teman hingga mabuk sampai “ditiduri”, kabur dari rumah, berpacaran dengan bandar narkoba, sakaw di tempat kerja, dan berbagai hal nista lainnya. Karena narkoba itulah, hidup seperti angin berputar yang tidak tentu arah.

Itulah kisah ringkas Mona (bukan nama sebenarnya, Red.). Iapun tidak begitu setuju bila semua yang terjadi padanya dikatakan sebagai buntut dari perpisahan orang tua sejak ia menginjak sekolah dasar. Bersama dengan lima orang kakak laki-lakinya, Mona memilih tinggal bersama sang ibu. Perceraian itu, diakui Mona, berakibat pada hilangnya perhatian untuknya dan saudaranya yang lain. Hingga, dua orang saudara laki-lakinya juga terjebak dalam lembah hitam narkoba.

Kehidupan bandel Mona, dimulai ketika ia menginjak bangku SMP. Akibat dari pergaulan yang terlalu bebas, ia memulai kebiasaan merokok. Sejalan dengan itu, Mona akhirnya mulai mengenal dan mencoba ganja. “Minuman juga pernah coba, tapi gak terlalu sering,” tuturnya.

Perkenalan dengan ganja terjadi tanpa disengaja. Saat itu, kakak laki-lakinya sering membawa teman untuk menginap. Di rumahnya yang terbilang besar dan sepi, sang kakaknya sering menggelar pesta mabuk bersama teman-temannya. Akibat sering melihat kejadian itu, Mona jadi sangat mengenal seluk beluk orang mabuk. Buruknya, iapun jadi semakin ingin mencoba.

Pada suatu waktu ia bermain di kamar kakaknya. Di bawah kasur, ia menemukan daun ganja baik yang sudah dilinting ataupun yang masih dibungkus koran atau plastik. Jumlahnya lumayan banyak. Mona pun jadi berkesimpulan bahwa kakaknya dan teman-teman yang sering dibawanya tidak saja seorang “pemakai”, tapi juga seorang bandar.

Sekedar iseng, karena terbiasa merokok, Mona jadi sering mengambil ganja yang telah dilinting untuk dihisap. “Awalnya saya mau tahu, bagaimana sih rasanya. Katanya kalau ngisep ganja, matanya merah. Karena itu, sehabis menghisap, saya sering bercermin. Dan ternyata biasa aja. Cuma memang agak sedikit pusing,” ungkapnya mengenang.

Dijebak dan Diperkosa

Menginjak SMA, kehidupan bandel yang dilakoni Mona makin menjadi. Pergaulannya makin bebas. Di akhir pekan, ia sering tidak pulang untuk berkumpul dengan teman-temannya. “Saya mulai bandel untuk gak pulang. Cobain nongkrong-nongkrong, hingga masuk ke diskotik,” tutur anak bungsu ini. Usia Mona masih 15 tahun saat menginjak kelas satu SMA, namun ia telah mengenal alkohol dan obat-obatan. Tidak sulit bagi Mona untuk mendapatkan 2 jenis barang haram itu untuk dikonsumsi bersama teman-temannya.

Suatu waktu, Mona bertemu dengan teman yang dahulu sering nongkrong bersama. Sebut saja nama temannya itu T. Mona menyebut T itu sebagai “abang-abangan”, yaitu sebutan anak nongkrong untuk memanggil teman yang lebih tua. Oleh T, ia dikenalkan dengan seseorang yang dikatakan sebagai pemilik sebuah diskotik di daerah Jakarta Pusat. Bersama T, Mona sering berkunjung ke diskotik yang dimiliki oleh teman T tersebut. “Ketika main ke diskotik itu, sayapun sering ditraktir makan dan minum. Terkadang dikasih ongkos buat pulang,” jelasnya.

Suatu hari, ketika sedang berkunjung ke diskotik teman T tersebut, Mona mabuk berat. Ketika ingin pulang, ia pun dicegah oleh T. Saat itu Mona ditawari agar tidak usah pulang dan dijanjikan untuk disewakan sebuah kamar hotel. “Biasanya, sehabis ke diskotik itu saya langsung pulang ke rumah. Namun, kalau tidak pulang saya juga langsung ke tempat teman dan nongkrong lagi di sana sampai pagi,” ucap Mona.

Ketika ditawarkan kamar hotel tersebut, iapun sempat berpikir macam-macam. Namun, karena ia percaya kepada T, pikiran itu tidak digubrisnya. Mona juga sempat dijanjikan oleh T bahwa apa yang ditawarkan adalah karena kepedulian terhadapnya. “Udah, lu masuk aja ke kamar. Masuk dan lu kunci dari dalam. Beres. Tinggal tidur dah lu” ungkap Mona menirukan ucapan T. Ketika terbangun dari tidur, dan masih di bawah pengaruh mabuk, Mona melihat seorang laki-laki yang tertidur sambil memeluknya. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh T. Mona pun yakin ada “bisnis tersembunyi” untuk dirinya yang dilakukan oleh T.

“Ternyata dia berniat jelek. Mungkin dia berpikir, ah si Mona itu kan sering nongkrong dan pergi bebas bersama laki-laki. Jadi gampang aja. Padahal dia salah besar! Walaupun sering main dan nongkrong, saya bukan seperti yang dia kira,” geram Mona mengingat apa yang dirasakannya saat itu.

Setelah kejadian itulah, kehidupan Mona berubah. Ia merasa malu dan bersalah. Peristiwa di malam jahanam itu tidak pernah diceritakannya pada siapapun, namun perasaan malu terus menyelimuti. Ia jadi malas untuk melakukan apapun dan makin sering tidak pulang ke rumah. Saat itu terlintas di pikirannya untuk membunuh orang yang telah memperkosa dirinya. Dalam kekalutan, Mona mengajak sang teman untuk kabur dari rumah. Puiang dari sekolah, mereka berdua akhirnya pergi ke Jambi. “Saya pikir saya bisa menentukan jalan sendiri,” tuturnya polos.

Dendam menghilang berkat nasehat teman-temannya. Mona diberi pengertian, walaupun ia membunuh pria amoral tersebut, keperawanan dirinya tidak akan kembali lagi. Bahkan ia nantinya akan berurusan dengan pihak berwajib. “Saat itu saya hanya berpikir, bila membunuh orang itu nanti keluarga akan tahu apa alasan-alasan yang menyebabkan saya jarang puiang dan kabur dari rumah,” geramnya.

Kecanduan Putau

Setelah satu setengah tahun menetap di Jambi, Mona akhirnya kembali ke Jakarta pada awal 1996. Saat pulang ke Jakarta, ia tidak langsung ke rumah. Kebetulan ia bertemu dengan teman akrabnya kala SD yang bekerja di daerah Daan Mogot, Jakarta Barat. Bersama temannya pula Mona menetap dan dibiayai untuk menyewa sebuah kamar kos di daerah Kota, Jakarta Utara.

Tidak diduga, penghuni kos sebelah kamarnya adalah seorang bandar putau. Monapun akrab dengannya. Alih-alih menumpang untuk meracik narkoba dagangan, sang bandar sering datang ke kamar Mona. “Kebetulan kamar yang saya tempati ada AC, dengan alasan itu pula bandar tersebut lebih betah di sana,” tutur Mona. Sambil meracik, sang bandar sering menawarkan contoh barang dagangan ke Mona. Tanpa segan, Mona pun mencoba memakai putau tersebut dengan cara di-drugs, yaitu dibakar dan dihisap uapnya. “Setiap hari dia ke kamar. saya dan teman sering dikasih tester putau dengan gratis. Tapi setelah melihat kita sudah sering sakau, iapun jadi tidak numpang meracik lagi. Mau tidak mau kita yang berganti pergi ke kamarnya. Malah terkadang tidak memberi bila kita meminta, terpaksa hams membeli,” ingatnya kesal.

Mulai dari situ diri Mona kecanduan putau. Setiap hari ia ketagihan. Kehabisan uang dan tidak tahu mesti berbuat apa lagi, dalam keadaan sakau, Mona memberanikan diri puiang ke rumah.

Coba Jarum Suntik

Pulang ke rumah, yang ada di pikiran Mona adalah cara mendapatkan uang untuk membeli putau. Disekolahkan kembali oleh sang ibu, Mona pun memanfaatkan keadaan dengan alasan klise untuk mendapatkan uang, seperti membeli buku, bayar uang sekolah, dan lain-lain. Tamat SMA, Mona mengikuti kursus di sebuah lembaga pendidikan bahasa. Di situlah ia bertemu kembali dengan mantan pacarnya. “Ia sudah beristri, namun katanya ia sayang sama saya. Ia sering memberi uang yang akhirnya saya pergunakan untuk membeli putau,” papar Mona.

Lulus dari tempat kursus, Mona kembali pergi dari rumah dan ngekos. Di situ ia diajak oleh seorang teman untuk bekerja di sebuah diskotik. Disitu pun ia ditinggalkan sang pacar. Mona ditinggalkan ketika diketahui dirinya adalah pecandu putau. Saat terjadi kerusuhan di bulan Mei 1998, Mona kesulitan mendapatkan putau. Saat itu dia mendatangi seorang bandar yang hanya mempunyai putau dalam bentuk cair dan harus dipakai dengan disuntik. Dengan sangat terpaksa, Mona pun mencoba memakai putau dengan cara disuntik. Kenikmatan yang berbeda pun dirasakan Mona. Sejak itulah ia selalu memakai putau dengan cara disuntik.

Sakaw di Tempat Kerja, Pacaran sama Bandare

Tahun 1999, Mona mulai kehabisan uang. Jangankan untuk membeli putau, untuk biaya hidup sehari-hari sangatlah susah. Dalam keadaan sakau, ia kembali puiang ke rumah. Saat itu Mona dalam pengaruh Leksotan – yaitu sejenis obat yang menurut para pengguna putau dapat menghilangkan rasa sakaw – Mona mulai cerita pada ibunya semua kejadian yang menimpa selama ini. Setelah itu, Mona dimasukkan dalam program terapi Rumah Sakit Fatmawati. Dalam pengobatan itu ia berobat jalan. Selama hampir dua bulan Mona menjalani pengobatan di rumah. Setelah pulih, Mona mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan air minum. Sibuk bekerja, iapun lupa dengan narkoba. Diakuinya, di situ ia benar-benar jauh dari segala jenis narkoba, terkecuali merokok. Namun, kehidupan normal itu hanya berlangsung tiga bulan. Satu saat Mona bertemu dengan seorang rekan kerja pecandu putau. Sebut saja namanya W.

Awalnya Mona tidak tahu bahwa ia pecandu. Namun, karena sering berbincang dengan W, lambat laun Mona tahu. Ternyata, W dan istrinya adalah pasangan pemakai putau. Faktor sugesti dan juga pengaruh W, akhirnya Mona kembali mencoba putau yang telah ia tinggalkan. Setiap jam makan siang, pastilah W datang dan membawa putau. Karena kebiasaan barunya itu, Mona tergoda untuk menghubungi teman-teman lamanya yang merupakan bandar narkoba. Bila ia dapat membeli sendiri tanpa W, pastilah putau yang ia dapatkan akan lebih cukup untuk dipakai sendiri, pikir Mona saat itu. Setiap jam makan siang, dengan menggunakan ojek, Mona mendatangi bandar-bandar kenalan lamanya. Mona jadi sering sakaw di kantor, bahkan di saat jam kerja.

Uang gaji pun akhirnya terpakai untuk belanja putau. Sampai ia bertemu dengan seorang bandar yang tertarik kepadanya. Kesempatan itupun digunakan oleh Mona. Ia menjalin hubungan dengan sang bandar. “Lumayan saya pacarin dia. Kadang-kadang saya bisa dapat barang gratis. Waktu itu saya kalau beli kan pakai ojek, dia juga yang kadang bayarin tuh ojek,” ujar Mona.

Dukungan Orang Tua yang Berarti

Karena tindak-tanduk sang putri bungsu mulai aneh lagi, orang rumah mulai curiga. Hampir delapan bulan Mona memakai putau sambil bekerja. Rekan-rekan kerjanya tahu dan mengadukan Mona ke atasan. Mona akhirnya dikeluarkan. Dengan sedikit tipu daya, orang tuanya kembali memasukkan ke sebuah panti rehabilitasi di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. “Waktu itu aku sedang sakaw di rumah, saya minta uang pada orang tua. Kemudian ibu menawarkan untuk ikut dengannya dahulu baru dikasih uang. Ternyata saya dibawa ke panti rehabilitasi,” cerita Mona.

Sebelas bulan lamanya Mona menjalani proses terapi. Hingga akhirnya, di awal 2002, ia kabur dari panti rehabilitasi tersebut, dan kembali ke rumah. Mona kembali mendapatkan pekerjaan di sebuah toko kaset. Ia menyewa sebuah kamar kos lagi sambil bekerja. Suatu waktu ia bertemu mantan kekasihnya yang seorang pemakai. Pengaruh narkoba pun kembali hinggap dalam kehidupan Mona. Setelah itu ia menjalani kehidupan kembali sebagai pemakai narkoba. Hingga akhirnya, ia terkena jangkauan sebuah lembaga yang menangani pecandu narkoba di wilayah Cideng, Jakarta Barat. Lembaga itu bergerak dalam pengurangan dampak buruk dari narkoba, khususnya pecandu yang menggunakan jarum suntik.

Tidak lama setelah itu, Mona pun ditawarkan untuk menjalani terapi substitusi dengan menggunakan Metadon yang ia jalani hingga kini. Menurut Mona, dosis yang dipakai dalam terapinya kini adalah 5 mg. Iapun berharap, dosisnya berkurang lagi di kemudian hari hingga akhirnya ia tidak perlu menggunakan apa-apa lagi. Dikatakan Mona, seorang pecandu narkoba bila ingin berhenti harus dari keinginan hatinya sendiri. Mona yakin, setiap pecandu bisa berhenti! Iapun mengakui, dukungan orang tuanya sangat besar dirasakan olehnya. Orang tuanya pun akhinya bersatu kembali dan tinggal bersama hanya untuk membenahi apa yang terjadi pada Mona dan juga kakak-kakaknya. “Mereka pernah bilang, mereka rujuk kembali hanya untuk anak-anaknya. Dan hal itu dirasakan sangat berarti bagi saya dan juga semuanya,” tutur Mona mengakhiri pembicaraan.

Sumber: http://www.bnn.go.id/portalbaru/

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊•kekke & jekko•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

bunga opium

 

Opioid atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium. Nama Opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium.

Berikut produk turunan dari opiat

1. Morfin

morfin

Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.

 

 2. Heroin ( putaw )

heroin

  Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir – akhir ini . Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu. Walaupun pembuatan,

 penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.

3. Demerol

demerol

Nama lain dari Demerol adalah pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna.

 

 

4. Methadon
Saat ini Methadone banyak digunakanorang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane, dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid

Efek Samping Yang Ditimbulkan :
-Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara,
-kerusakan penglihatan pada malam hari,
-mengalami kerusakan pada liver dan ginjal,
-peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik dan
-penurunan hasrat dalam hubungan sex,
-kebingungan dalam identitas seksual,
-kematian karena overdosis.

Gejala Keracunan Opioid :
-Konstraksi pupil ( atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat ) dan
-satu ( atau lebih ) tanda berikut, yang berkembang selama , atau segera setelah pemakaian opioid, yaitu mengantuk atau koma bicara cadel ,gangguan atensi atau daya ingat.

Perubahan Psikologis yang bermakna secara klinis misalnya:
-euforia awal diikuti oleh apatis,
-disforia,
-agitasi atau retardasi psikomotor,
-gangguan pertimbangaan, atau
-gangguan fungsi sosial atau pekerjaan ) yang berkembang selama, atau segera setelah pemakaian opioid.

Gejala Putus Obat (sakau/nagih) :
– dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah dosis terakhir. Biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotik.
-Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama.

Gejala-gejala tersebut antara lain::
-kram otot parah dan nyeri tulang,
-diare berat,
-kram perut,
-rinorea lakrimasipiloereksi,
-menguap,
-demam,
-dilatasi pupil,
-hipertensi takikardia disregulasi temperatur, termasuk pipotermia dan hipertermia.

Gejala penyerta putus opioid adalah
-kegelisahan,
-iritabilitas,
-depresi,
-tremor,
-kelemahan,
-mual, dan muntah.

Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat.

Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti penyakit jantung.

Sumber:
http://www.bnn.go.id/portalbaru/

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊•kekke & jekko•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Ekstasi

Turunan lain yang paling terkenal dari amfetamin (Istilah yang terkenal dalam bahasa Inggris adalah speed) selain sabu-sabu adalah ekstasi.

 Ekstasi sering digunakan sebagai obat rekreasi yang membuat penggunanya menjadi sangat aktif.

 Efek menggunakan ekstasi:

A. Efek Langsung :

Obat ini mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit diminum. Efeknya berlangsung maksimum 1 jam. Berikut efek langsung setelah minum ekstasi:

–         Seluruh tubuh akan terasa melayang.

–         Kadang-kadang lengan, kaki dan rahang terasa kaku,

–         mulut rasanya kering.

–         Pupil mata membesar

–         jantung berdegup lebih kencang.

–         Mungkin pula akan timbul rasa mual.

–         Bisa juga pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar)

–         akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal

–         segala perasaan malu menjadi hilang.

–         Kepala terasa kosong, rileks dan “asyik”

–         akan merasa gembira tiba-tiba.

–         mampu menari atau berjoget dalam jangka waktu lama

–         merasa membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia.

–         Semua perasaan itu akan berangsur-angsur menghilang dalam waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan.

B.  Efek tidak langsung:

–         Beberapa Jam Setelah Pemakaian
Beberapa jam setelah orang mengonsumsi ekstasi akan dihasilkan penurunan kemampuan mental yang signifikan, terutama mempengaruhi memori dan bisa bertahan hingga seminggu. Kondisi ini berbahaya jika seseorang melakukan kegiatan kompleks seperti menyetir.

–         Seminggu Setelah Konsumsi
Selama seminggu setelah konsumsi, banyak pengguna yang melaporkan berbagai emosi termasuk kecemasan, kegelisahan, mudah marah, kesedihan, depresi, gangguan tidur, kurang nafu makan dan tidak bisa menikmati seks.

 Akibat jangka panjang:

–         kecanduan,

–         syaraf otak terganggu,

–         gangguan lever,

–         tulang dan

–         gigi kropos

–         Pandangan kabur

–         Pusing

–         Peningkatan detak jantung

–         Sakit kepala

–         Tekanan darah tinggi

–         Kurang nafsu makan

–         Nafas cepat

–         Gelisah

–         Pada  penggunaan zat terus menerus akhirnya akan menimbulkan gangguan gizi dan gangguan tidur. Pengguna akan lebih rentan untuk sakit apapun karena kondisi kesehatan yang secara keseluruhannya buruk..

–         oksigen dalam otak berkurang drastis sehingga sel-sel saraf jadi cacat atau malah koleps

–         Beberapa pemakai ekstasi yang akhirnya meninggal dunia karena terlalu banyak minum akibat rasa haus yang amat sangat.

 Kematian lebih mungkin terjadi jika:

– digunakan dalam ruangan hangat dengan ventilasi yang kurang

– pemakai sangat aktif secara fisik (misalnya menari dengan cepat)

– pemakai berkeringat banyak dan tidak minum sejumlah cairan yang cukup untuk menggantikan hilangnya cairan.

Pengobatan

Gejala yang berlawanan dengan efek secara tiba-tiba dihentikan penggunannya. Gejala sakau/nagih:

–         Pengguna akan menjadi lelah atau mengantuk, yang bisa berlangsung selama 2-3 hari setelah penggunaan obat dihentikan.

–         Beberapa pengguna sangat cemas dan gelisah.

–         Pengguna yang juga menderita depresi bisa menjadi lebih depresi jika obat ini berhenti digunakan.

–         cenderung ingin bunuh diri, tetapi selama beberapa hari mereka mengalami kekurangan tenaga untuk melakukan usaha bunuh diri.

 Karena itu pengguna menahun perlu dirawat di rumah sakit selama timbulnya gejala putus obat.

 Pada pengguna yang mengalami delusi dan halusinasi bisa diberikan obat anti-psikosa (misalnya klorpromazin), yang akan memberikan efek menenangkan dan mengurangi ketegangan.Tetapi obat anti-psikosa bisa sangat menurunkan tekanan darah.

 Biasanya lingkungan yang tenang dan mendukung bisa membantu pemulihan pengguna.

 Sumber:

www.bnn.go.id/portalbaru/

– wikipedia

http://www.dokter bagus.com

http://www.hai-online.com

www.terapisehat.com

www.resep.web.id

www.terselubung.blogspot.com

sabu sabu

Nama lainnya : Ubas, ss mecin, Gold river, coconut, crystal.

Sabu2 ini berbentuk kristal dan biasanya berwarna putih. Sangat mudah didapat dan sangat mudah cara mengkonsumsinya dengan cara membakarnya di atas aluminium foil sehingga mengalir dari ujung satu ke arah ujung yang lain. Kemudian asap yang ditimbulkannya dihirup dengan sebuah Bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air). Air Bong tersebut berfungsi sebagai filter karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut. Ada sebagian pemakai yang memilih membakar Sabu dengan pipa kaca karena takut efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan aluminium foil yang terhirup.

Pemakainya tidak pernah merasa kesakitan kalau lagi nagih/sakaw, hanya gelisah, tidak bisa berpikir dan bekerja. Tetapi bubuk kristal ini sangat jahat karena langsung merusak otak terutama otak yang mengendalikan pernafasan, didalam tubuh kristal ini mengkristal kembali, sehingga paru2nya bisa berubah menjadi batu mengeras sehingga umumnya keluhan pemakai shabu-shabu adalah sesak nafas, suatu saat pecandu akan mengeluh sakit asma(sesak nafas) dan lama2 kalau tetap memakai shabu2 akan meninggal begitu saja karena kehabisan nafas, karena syaraf otak yang mengendalikan pernafasan sudah tidak berfungsi, dan tidak ada lagi instruksi untuk bernafas. Setiap hari ada berapa remaja yang meninggal hanya karena keluhan sesak nafas(asma).

Sakauw Shabu-shabu :
Gelisah, tidak bisa berpikir, tidak bisa bekerja.Tidak bisa tenang, cepat capai, mudah marah, tidak bisa beraktivitas dengan baik, tidak ada semangat, Depresi berat, Rasa lelah berlebihan, Gangguan tidur, Mimpi bertambah.

Setelah pakai shabu-shabu:
Mata bendul ada garis hitam, Badan terasa panas terbakar, sehingga minum terus menerus, dan ke-mana2 selalu membawa botol aqua. Kuat tidak makan dan tidak tidur sampai ber-hari2, ngomong terus tapi suaranya jelas.
Bersemangat, gariah seks meningkat, paranoid, tidak bisa diam/tenang, selalu ingin menambah terus Tapi dengan terus menambah sabu juga merupakan suatu tindakan bodoh dan sia-sia karena efek yang diinginkan tidak akan lagi bertambah (The Law Of Diminishing Return). , tidak bisa makan, tidak bisa tidur

Mau coba betapa ganasnya kristal ini?

Ambil daging mentah dan taruh kristal ini diatasnya dan kristal ini bisa menembus masuk kedalam daging ini, bayangkan kristal seperti ini dimasukkan kedalam tubuh.

Efek penggunaan sabu :
1. Dalam waktu 1 jam:
– Paranoid, otak suah dipakai berpikir dan konsentrasi,
– jet lag dan tidak mau makan
– rasa gembira / euforia,
– rasa harga diri meningkat,
– Banyak bicara,
– Kewaspadaan meningkat,
– denyut jantung cepat,
– Pupil mata melebar,
– Tekanan darah meningkat,
– berkeringat/rasa dingin,
– Mual/muntah,
– Delirium/kesadaran berubah (pemakai baru, lama, dosis tinggi),
2. Dalam waktu 24 jam:
– Perasaan dikejar-kejar,
– Perasaan dibicarakan orang,
– Agresif dan sifat bermusuhan,
– Rasa gelisah,
– Tak bisa diam..
3. Gangguan irama detak jantung, Perdarahan otak, Hiperpireksia atau syok pada pembuluh darah jantung yang berakibat meninggal

Masih kurang?
Kalau gitu biar saya rinci satu-satu bahan-bahan untuk membuat sabu:
Berikut bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Sabu-sabu :

1. Korek Api

Fosfor merah yang terkandung dalam kepala korek api yang dikombinasikan dengan yodium dapat menjadi zat yang disebut Hydriodic Asam, sebuah bahan baku methamphetamines.

2. Yodium
Yodium adalah racun yang berbahaya jika tertelan dalam jumlah besar yang dapat mempengaruhi fungsi tiroid. Dibutuhkan hampir 4 botol yodium untuk menghasilkan 2-3 gram methamphetamine.

3. Drano
Anda mungkin telah menggunakan Drano untuk menimbulkan korosi pada pipa air akibat rambut dan sampah

4. Minyak Rem
Tahu sendiri kan fungsi minyak rem? Cukup mengerikan bukan?

5. Efedrin
Selain membersihkan sinus, efedrin mempunyai efek samping dari melepas dopamin di dalam otak, yang membangkitkan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan ketika makan makanan atau melakukan seks. Meskipun hal ini mungkin terdengar besar secara teori, simulasi berlebihan pelepasan dopamin secara buatan pada akhirnya akan menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan untuk menciptakan sensasi kesenangan secara alami.

6. Lighter Fluid, Butana
Cairan ringan yang digunakan selama memasak sabu. Mungkin Anda mulai mengerti mengapa begitu sering pabrik sabu terbakar.

7. Asam Klorida
Asam klorida ini ditemukan secara alami dalam usus sebagai bahan cairan pencernaan manusia. Jika tumpah pada kulit, asam ini akan benar-benar merusak hingga ke daging manusia. Dalam dunia industri, asam klorida digunakan dalam pengolahan kulit dan untuk menghilangkan besi-oksida dan karat dari baja. Pengguna sabu memilih untuk sengaja menelan korosif asam ini ke dalam tubuh mereka.

8. Sodium Hidroksida
Sebagian besar natrium hidroksida digunakan dalam menciptakan biodiesel atau untuk aluminium etsa. Ini juga digunakan oleh pekerja kota yang bertugas di jalan untuk menghilangkan noda darah pada kecelakaan.

9. Ether
Gas yang sangat mudah terbakar ini digunakan sebagai pembius untuk operasi oleh negara dunia ketiga. Setelah menghirup udara, yang pernah disebut “manis asam belerang” untuk efek hipnosis, pasien dapat menjalani operasi tanpa rasa sakit.

10. Amonia Anhidrat
Istilah “anhidrat” berarti tanpa air. Karena amonia yang kuat ini kekurangan air, ia akan mencarinya di mana pun dapat menemukannya, makan melalui apa pun yang di jalani termasuk daging manusia. Zat yang sangat merusak ini digunakan industri sebagai pendingin komersial dan pupuk kimia

Gimana, masih mau pakai sabu?

Sumber:
http://www.bnn.go.id/portalbaru/
http://www.infonarkoba.blogspot.com
http://www.acehtraffic.com

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊•kekke & jekko•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Ganja

ganja kering

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica)
adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami

 euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap hashish melalui pipa chilam/chillum, dan dengan meminum bhang.

Efek mengkonsumsi Ganja

 

Beberapa bentuk sediaan penggunaan ganja, ada yang dikonsumsi dalam bentuk rokok, terkadang dicampur dengan tembakau, ada pula yang dicampur dengan daging dendeng atau dioplos dalam minuman.

Menyadari bahaya dari dampak yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan ganja, maka berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pemerintah menetapkan ganja (bersama opium (beserta aneka turunannya), kokain, heroin dan beberapa jenis narkotika lainnya) termasuk dalam Narkotika Golongan I (satu) yang artinya hanya boleh digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan sama sekali tidak boleh digunakan dalam terapi apapun karena berpotensi sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.

Ganja memiliki banyak istilah di kalangan para pemakai atau junkies seperti cimeng, rasta, ulah, gelek, buda stik, pepen, hawai, marijuana, dope, weed, hemp, hash (hasish), pot, joint, sinsemilla, grass, dan ratusan nama jalanan lain yang tersebar di seluruh dunia untuk penamaan ganja.

Dampak penyalahgunaan ganja dalam dosis rendah dan sedang.

-mengalami hilaritas (berbuat gaduh),
-mengalami oquacous euphoria (euphoria terbahak-bahak tanpa henti),
-mengalami perubahan persepsi ruang dan waktu,
-berkurangnya kemampuan koordinasi, pertimbangan, dan daya ingat,
-mengalami peningkatan kepekaan visual dan pendengaran (tapi lebih ke arah halusinasi),
-mengalami conjunctivitis (radang pada saluran pernafasan), dan
-mengalami bronchitis (radang pada paru-paru).

Dampak penyalahgunaan ganja dengan dosis tinggi.

Dampak yang diakibatkan adalah seorang penyalahguna ganja akan mengalami
-ilusi (khayalan),
-mengalami delusi (terlalu menekankan pada keyakinan yang tidak nyata),
– mengalami depresi (mental mengalami tekanan),
-kebingungan,
-mengalami alienasi (keterasingan), dan
-halusinasi (terkadang, juga disertai gejala psikotik seperti rasa ketakutan dan agresifitas).

Penyalahgunaan ganja secara teratur dan berkepanjangan, mengakibatkan:

a. Gangguan fisik antara lain :
-Mengalami radang paru-paru,
-mengalami iritasi dan pembengkakan saluran nafas,
-mengalami kerusakan pada aliran darah koroner dan
-beresiko menimbulkan serangan nyeri dada,
-beresiko terkena kanker lebih tinggi (karena daya karsinogenik yang terdapat pada ganja jauh lebih tinggi dari pada tembakau),
-menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit (karena penyalahgunaan ganja menekan produksi leukosit),
-serta menurunnya kadar hormon pertumbuhan baik hormon tiroksin (hormon kelenjar gondok) dan maupun hormon kelamin pada laki-laki dan perempuan.
-pengurangan produksi sperma pada laki-laki dan gangguan menstruasi dan aborsi pada perempuan.

b. Gangguan psikis
akibat penyalahgunaan ganja secara teratur dan berkepanjangan menyebabkan dampak yang cukup berbahaya seperti:
– timbulnya rasa kuatir (ansienitas) selama 10 – 30 menit,
-timbulnya perasaan tertekan dan takut mati,
-gelisah,
-bersikap hiperaktif (aktifitas motorik mengalami peningkatan secara berlebihan),
-mengalami halusinasi penglihatan (dalam bentuk kilatan sinar, warna-warni cemerlang, amorfiaq, bentuk-bentuk geometris, dan wajah- wajah para tokoh. Juga bisa dalam bentuk tanggapan pancaindera visual dan pendengaran tanpa adanya rangsangan, seperti melihat orang lewat padahal tidak ada orang lewat, mendengar suara padahal tidak ada suara), mengalami perubahan persepsi tentang waktu dan ruang (misalnya, satu meter dipersepsi sepuluh meter, sepuluh menit dipersepsi satu jam),
-mengalami euphoric (rasa gembira berlebihan),
-tertawa terbahak – bahak tanpa sebab (tanpa rangsangan yang patut membuat orang tertawa),
-banyak bicara (merasa pembicaraannya hebat),
-merasa ringan pada seluruh tungkai badan,
-mudah terpengaruh,
-merasa curiga (tapi tidak menimbulkan rasa takut, bahkan cenderung menyepelekan dan menertawakannya),
-merasa lebih menikmati musik,
-mengalami percaya diri berlebihan (merasa penampilan dirinya paling hebat walau kenyataannya sebaliknya),
– mengalami sinestesia (misalnya, melihat warna kuning setiap kali mendengar nada tertentu), dan
-mengantuk lalu tertidur nyenyak tanpa mimpi setelah mengalami halusinasi penglihatan selama sekitar 2 (dua) jam

Bisa kita bayangkan, betapa mengerikannya bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan ganja, bahkan untuk menghentikan seseorang yang sudah terbiasa mengkonsumsi ganja juga tidak mudah. Hal ini mengingat dampak yang diakibatkan dari penghentian penyalahgunaan ganja juga tidak kalah berbahayanya,

yaitu munculnya gejala putus zat seperti insomnia (kesulitan tidur), mual, mialgia, cemas, gelisah, mudah tersinggung, demam, berkeringat, nafsu makan menurun, fotofobia (takut akan cahaya), depresi (bisa berakibat si korban nekad melakukan aksi bunuh diri), bingung, menguap, diare, kehilangan berat badan (sebagai akibat dari menurunnya nafsu makan), dan tremor (badan selalu gemetar).

Sumber :
http://www.bnn.go.id/portalbaru/
http://www.terindikasi.com/2012/04/bahaya-ganja.html#ixzz24v0i4UcA

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊•kekke & jekko•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Nama saya Arif. Mau tanya apa tentang narkoba? Semuanya sudah saya coba. Saya bukan mau nyombong, tapi emang kenyataannya begitu. Lagian apa yang mau disombongin, soalnya saya pernah hampir mati gara-gara itu. Cuma saya sulit menceritakan pengalaman mau mati itu. Orang tahunya saya over dosis. Saya baru menyadari kemudian, rupanya main-main sama putaw sama seperti permainan hidup dan mati. Efek putaw sangat keras. Sekali kena, walaupun cuma sekali coba, tunggu seminggu kemudian, pasti badan tahu-tahu terasa panas. Dari hanya coba-coba selama seminggu, orang akan langsung bisa merasakan sakaw atau kesakitan karena badan menagih minta diinfus putaw lagi. Kalau sudah begitu, artinya sudah ada ketergantungan untuk terus mengkonsumsi.

 

Menjual Barang Rumah

 Sudah 12 tahun saya pakai putaw. Selama itu, saya bergerilya mencari sendiri barangnya lewat teman. Awalnya, saya bisa membelinya dengan uang saku bulanan. Kalau sudah kehabisan, saya terpaksa menjual barang-barang apa saja yang ada di rumah. Tapi saya tidak tertarik ikut-ikutan mengedarkan, soalnya saya cuma ingin menikmati saja, nggak mau susah-susah.

 

Orang Tua Bercerai

 Saya mencari sesuatu yang bisa memberi rasa adem buat batin saya yang terluka. Pada masa remaja saya, orang tua membuat saya merasa begitu terkekang dengan larangan ini itu. Tapi ketika orangtua bercerai, saya tiba-tiba serasa kehilangan kendali yang selama ini mengikat saya. Saya merasa sangat bebas. Kemarin-kemarin, oke deh saya ngikutin aja dikekang sana-sini. Tapi begitu saya lihat keluarga sudah hancui; saya nggak tahu lagi mana yang baik, mana yang buruk. Maka mulailah saya bereksperimen, mencoba apa saja yang bisa bikin hati senang secara instan. DariSD saya sudah tahu asyiknya merokok, dan semasa SMP saya juga sudah mencicipi ganja dan akhirnya zat-zat kimia yang menyebabkan ketergantungan. Ketika masalah makin menumpuk di kepala, saya secara naluriah mencari sesuatu yang lebih cepat memberi efek yang mengendorkan syaraf-syaraf di kepala saya.

 

Keyakinan yang Salah

 Sewaktu kelas 2 SMA, orangtua saya berpisah. Sejak itu, saya tidak tinggal di rumah lagi. Saya memilih untuk ngekos. Di sini, 24 jam teman bebas datang. Karena tidak bisa menalak ajakan teman, saya jadi terbiasa keluyuran kemana-mana. Kalau lagi nongkrong, ya waktu kita habis buat minum-minum, nenggak obat megadon dan obat daftar G lainnya. Saya benar-benar nggak punya filter; jadi semua saya coba. Untuk meupakan masalah orangtua, pelarian saya, ya mabuk-mabukkan. Belum agi saya diilhami keyakinan yang salah selama masa pergaulan bebas itu, Ada pendapat kalau ngobat, kita malah jadi pintar Atau kita jadi jago matematka. Memang kedengarannya konyol, tapi tanpa saya sadari, keyakinan itu tertanam dalam diri saya. Perasaan saya setelah pakai obat itu, saya jadi orang ganteng dan jago ngomong. Bawaannya, saya mau dandan atau belanja terus.

 Saya merasa terpukul sekali melihat orangtua bercerai. Dulu ayah saya mendidik saya dengan keras. Makanya, sejak SMP saya sudah sering berontak dengan kabupkaburan dari rumah. Tapi begitu keluarga berantakan, saya jadi bisa benapbenar bebas. Saat itulah saya mulai coba-coba. Awalnya waktu SMP saya coba cimeng (ganja). Saya belum suka minum waktu itu. Waktu SMA meningkat lagi dengan obat-obatan sampai saya hampir ketergantungan dengan obat daftar G, seperti megadon dan rohipno. Meski efek tidak sampai bikin sakit badan, tapi waktu saya mulai mengkansumsi, saya jadi susah tidur Akhirnya supaya saya bisa tidur; saya mesti minum obatobatan itu lagi.

 Dulu sih mudah mencari barangnya, karena penjualnya suka nongkrong dekat sekolah. Karena sering transaksi dengan penjualnya, saya serasa mendapatkan teman yang selalu ada sewaktu dibutuhkan. Padahal urusannya kan seputar obat saja. Yah, namanya juga lagi mabuk. Bahkan karena umur mereka yang jauh lebih tua, saya menganggap mereka sudah seperti abang. Waktu itu rasanya bangga kalau bisa bergaul dengan orang yang lebih tua. Ini sebagian akibat jauh dari rumah, sehingga saya tidak punya lagi figur yang dituakan. Apalagi saya tidak punya abang atau kakak. Sedangkan adik saya umurnya 9 tahun di bawah saya. Selain itu kiblat saya juga sudah salah. Saya suka menyama-nyamakan diri dengan musisi rock kayak Jim Morisson yang terkenal pecandu berat narkoba dan matinya juga karena overdosis. Jadi saya tambah bangga kalau hidup saya bisa mirip dengan dia, yang tiap hari mabuk atau ngeganja. Bam pada tahun 97-an saya mencoba putaw, bersamaan dengan mulai beredarnya putaw di pasaran.

 

Putaw

 Akhirnya saya terjerumus ke putaw setelah sebeumnya saya berganti-ganti memakai shabu dan semua obat daftar G. Begitu saya kena putaw, saya tidak bisa lepas lagi dari situ. Walaupun orang masih pakai ganja atau shabu, kalau dia sudah pernah pakai putaw, ya dia akan kembali ke putaw lagi. Jadi yang dominan itu pasti putaw.

 Pengalaman saya waktu sakaw atau sedang nagih ialah badan terasa pegal-pegal, merinding sampai tulang, air mata dan ingus mengucur Kalau orang umumnya kepanasan jam 12 siang, saya maah merinding kedinginan. Terus pinggang kayak sedang mengangkat beras sekarung. Secara psikis, emosi saya datapdatar saja, tapi pengen melukai badan. Saya jadi paranoid. Sepanjang hari dihinggapi perasaan takut. Kalau siang saya sakaw, mungkin malamnya saya akan sakaw lagi. Tahun 97 saya masuk panti rehabilitasi pesantren terkenal di Jawa Barat. Metode penyembuhan yang diterapkan di sana, di antaranya saya diwajibkan berzikir setiap jam 2 pagi, lau dibangunkan untuk mandi air gunung, selebihnya saya menjalani shoat sunah dan sholat lima waktu yang selalu disambung dengan zikir selama setengah jam. Di pesantren, saya cuma bertahan seminggu. Karena saya merasa ada yang tidak beres dengan praktek evaluasi yang dilaporkan pengurus kepada orang tua saya. Tahun 98 saya pernah overdosis setelah keluar dari pesantren. Dua minggu saya dirawat di rumah sakit. Waktu itu saya mau dikembalikan lagi ke sana, tapi saya berontak. Saya ingin seperti orang normal lainnya, walaupun sedang susah tapi tetap bisa tinggal sama keluarga. Pada tahun itulah, saya akhirnya pulang ke rumah ibu. Keluar dari rumah sakit, saya kambuh lagi. Tahun 98/99 saya berobat ke psikiater terkenal di Jakarta. Di sini saya mesti menjalani terapi obat yang sifatnya memblokade badan dari zafrzat adiktif Tapi karena badan saya tidak sanggup menahan obatnya yang keras sampai bikin halusinasi tinggi, saya menyerah. Sebelum berangkat haji tahun 2002, saya kembali direhabilitasi di satu yayasan khusus korban narkoba di Jawa Barat.

 

Rehabilitasi

 Panti rehabilitasi bisa dikatakan berhasil membuat saya tidak mengkonsumsi lagi. Tapi itu karena saya dikurung! tidak bisa kemana-mana. Setelah keluar dari sana, terus naik haji, saya tokh tetap katnbuh lagi. Lalu saya bilang satna keluarga kenapa kalau saya berobat, saya mesti dikurung. Kenapa tidak coba di rumah saja dengan niat sendiri. Jadi saya tidak mau lagi rehabilitasi dengan cara dikurung! Sebab selesai rehabilitasi, saya selalu punya masalah sosialisasi. Pada masa-masa seperti ini, saya bingung sehingga mutar-mutar menghabiskan waktu kesana-kesini. Jadi walaupun badan sudah tidak menagih, saya akhirnya mencari barang itu lagi. Mungkin karena tidak ada kegiatan, saya mencari teman-teman lama saya yang masih jadi pemakai. Pada akhirnya saya pikir kenapa saya tidak rehabilitasi diri dengan program sendiri saja sambil tetap bersosialisasi.

 Selama ini saya mau ikut rehabilitasi karena saya sudah capek sekali dan merasakan sakit yang parah. Ditambah saya sendiri memang bingung mau berbuat apa. Karena bujukan orangtua, saya bersedia diobati. Tapi munculnya keinginan sendiri untuk sembuh, baru setahun belakangan ini. Selama itu pula saya mencari sarana yang tepat untuk keluar dari ketergantungan ini. Akhirnya saya diperkenalkan pada metode penyembuhan self-hypnosis. Kalau tadinya bisa dibilang mental saya mudah jatuh karena sosialisasi yang buruk, begitu mengikuti self-hypnosis, saya dapat menghipnotis diri saya sendiri untuk menguatkan mental saya.

 

 Hipnosis

Sudah empat bulan saya terus-menerus mempraktekkan self-hypnosis dengan menanamkan sugesti bahwa saya bisa sembuh… saya bisa sembuh. Hasilnya, dari setengah jam sekali saya pakai putaw, setelah menjalani self-hypnosis, dibantu beberapa pelatihan dan dukungan teman, dosis pemakaiannya berkurang menjadi dua hari sekali, lalu beberapa minggu kemudian secara bertahap, empat hari sekali. Sekarang saya sedang mencoba seminggu sekali, baru setelah itu saya menargetkan untuk berhenti sama sekali.

 Buat orang yang pernah kecanduan, apa yang ingin kita capai tidak semudah mengatakannya. Pikiran saya tidak seperti orang normal. Pada saat penurunan dosis, pikiran saya sering bercabang dua. Misalnya ketika satu pikiran sedang diarahkan untuk mengetik, pikiran yang lain mencari-cari barang itu. Tiap hari hal seperti itu bisa terjadi, karena itu saya terus bicara meyakinkan diri saya sendiri, “Oke Arif, kamu bisa melawan ini” Untuk itu saya harus membuat program sendiri dan berjuang keras untuk menjalankannya sendiri. Sebab keinginan untuk pakai itu masih ada, dan kalau mau diikuti, sekecil apapun targetnya untuk mengurangi dosis, tidak akan pernah terpenuhi.

 Proses self-hypnosis biasanya saya lakukan sebelum tidur Saya menghipnotis diri sendiri agar besok pagi saya bangun dalam keadaan segar bugar Karena yang terjadi pada pemakai, ketika orang lain bangun pagi dengan segar; dia malahan merasa badannya sakit semua. Terbukti, setelah saya menghipnotis diri dengan mengatakan pada diri saya sendiri, “Besok pagi kamu akan bangun dalam keadaan segar bugar, sehat walafiat dan bisa menjalankan hari-hari kamu esok hari” Saya juga melakukan self-hypnosis pada saat datang masalah yang bisa bikin saya syok sementara saya menjalani hari. Saya bilang, “Oke Arif, kamu bisa menyelesaikan masalah ini, kamu akan kuat, dan bisa melewati semuanya”.

 Sekarang, seminggu sekali saya masih pakai. Pasti orang akan bertanya, kenapa tidak sekalian saja berhenti total? Sulit menjelaskannya. Sebenarnya dalam waktu dua minggu sejak tidak lagi mengkonsumsi, sakit badan sudah hilang. Tapi psikis rasanya oleng. Misalnya kalau kepala sudah terasa penuh oleh masalah, saya ingin segera mengendorkannya. Pada saat itu pilihan saya tidak banyak. Namanya juga ketergantungan. Pokoknya saya menghindari pengobatan kimia sebab kalau saya kena zat kimia lagi, itu berpengaruh pada kesadaran saya. Sementara saya baru bisa mengontrol diri kalau dalam keadaan sadar Alternatif lainnya, saya suka diterapi dengan pijat refleksi untuk pelancaran darah dan juga akupuntur.

 Tolong doakan, agar saya bisa pulih dan menjalani kehidupan normal seperti layaknya Anda-anda semua.

MARCELLA, sebut saja begitu. Usiaku 28 tahun. Sobatku, please deh… jangan sekali-kali menyebut atau menulis nama asliku ya… bilang saja, aku Marcella.

Belakangan  ini beberapa tetangga menyebutku “si kemeja putih”. Sebab, aku memang kerap mengenakan kemeja putih lengan panjang supaya goresan-goresan di tanganku bekas ngobat enggak ketahuan. Pokoknya, kemeja lengan panjang.

Sungguh mengenaskan, betapa tidak perempuan berparas manis dan berkulit terang itu tampak ketakutan sekali disebutkan nama aslinya. Di rumah kontrakannya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dia tinggal bersama suami keduanya dan seorang anaknya.

Bertahun-tahun dia menyembunyikan alkisah kehidupan yang dirasakannya semakin rapuh. Hidupnya sudah sangat bergantung pada narkoba. Bahkan, diam- diam tanpa sepengetahuan suami keduanya yang berprofesi sebagai aparat keamanan, Marcella sebetulnya sudah mengidap HIV/AIDS (ODHA).

Kok bisa begitu? Beginilah kisahnya.

Sejak duduk di bangku SMA di sebuah sekolah swasta di Jakarta Timur, Marcella mulai berkenalan dengan rokok. Entah bagaimana, ujar wanita itu, kenikmatan merokok terlihat jelas, ketika teman-temannya mulai mengisap rokok. Dia pun ikut- ikutan mencicipi rokok.

Suasana keras peraturan sekolah rupanya tidak dipedulikannya. Dia malah makin berani merokok meski harus merokok secara sembunyi-sembunyi di kamar mandi, di pojok pelataran sekolah, serta sepulang sekolah.

“Terus terang, sejak papa dan mama mulai kurang memerhatikan kehidupan keluarga, aku mulai suka bergaul seenaknya. Orangtuaku enggak tahu tuh kalau aku juga sering nenggak inex (bahasa gaul dari ekstasi),” kata Marcella.

Waktu terus bergulir. Lulus SMA, Marcella melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Jakarta Barat.

Pergaulan yang semakin bebas, apalagi urusan waktu kuliah yang tidak selalu sama seperti masa-masa SMA, membuat Marcella tergoda mencicipi jenis narkoba lainnya.

Bukan cuma inex, Marcella pun sudah mencicipi putau, ganja, bahkan kokain. “Asyik banget. Pikiran rasanya plong, seakan lepas dari berbagai masalah yang menghadang di depan kita,” kata Marcella, sambil sedikit tersenyum.

Sambil melihat siaran televisi yang tiba-tiba menyajikan berita penangkapan bandar yang memproduksi ribuan pil ekstase, lalu disusul tayangan penyelundupan ganja kering dari Aceh, Marcella malah menyebutkan, penangkapan demi penangkapan selalu disiarkan. Bosan, satu ditangkap, bandar lainnya malah semakin dibiarkan bebas bergerak.

Buktinya?

Marcella pun lugas menjawab, “Buktinya, saya masih bisa dapat barang-barang itu begitu mudah! Bebas bergerak ke sana kemari.”

“Sampai-sampai,” lanjut Marcella, “entah bagaimana akhirnya virus HIV/AIDS menyerang tubuh saya. Sst… kamu diam-diam ya, suami saya yang ini enggak tahu lho.”

Selintas Marcella terdiam. Dia teringat suaminya yang belum setahun ini meninggal dunia. Banyak orang bilang bahwa suaminya meninggal akibat serangan nyamuk malaria.

Padahal, sekali lagi dia menyuruh diam saja karena sebetulnya suami pertamanya meninggal akibat virus HIV/ AIDS.
“Dulu, pertama kali kenalan, kami memang sudah sama- sama menenggak narkoba. Akhirnya aku mengetahui, begitu mengerikannya penyakit itu. Tubuh suamiku terbaring lemah. Menjelang akhir hidupnya, darah mengucur dari kelamin,” kenang Marcella, sambil mengusap air matanya.

Dokter bilang, lanjut Marcella, jaringan tubuh suaminya makin rusak. Sebab, virus itu menyerang sel darah yang bertugas menjaga kekebalan terhadap serangan penyakit atau bakteri yang merugikan tubuh. Serangannya begitu ganas.

Marcella kini masih bingung. Kematian suami pertamanya meninggalkan dua anak yang lucu-lucu. Ketidakmampuan ekonomi membuat seorang anaknya sengaja dititipkan kepada orangtuanya. Entahlah, apakah kelak anak-anaknya juga mengidap virus HIV/AIDS atau tidak?

Tidak tega

Orangtua kita tidak akan tega melihat penderitaan anak- anaknya yang makin keranjingan narkoba. Kalau Marcella masih bisa “terbang” bebas menikmati narkoba, Bagas (sengaja namanya disamarkan) tidaklah demikian.

“Karena ulahku pakai narkoba, mamaku terus menangis sepanjang hari,” kenang Bagas (17). Siswa SLTA swasta itu sedikit demi sedikit mengisahkan kehancuran dirinya. Dia baru saja pulang dari tempat rehabilitasi pencandu narkoba.

Tahun 2003 dia tertangkap di pusat perbelanjaan. Razia polisi memang gila- gilaan. Bagas tertangkap sewaktu bertransaksi ganja kering.

Siang itu juga Bagas digiring ke sel tahanan kepolisian. Selinting ganja kering langsung dijadikan barang bukti. Hari itu juga Bagas merasakan pengapnya ruang penjara. Siang terasa panas, malam terasa dingin. Jeruji besi membatasi ruang gerak.

“Ngeri banget deh. Saya kapok. Setiap menit, pikiran saya cuma meminta dibebaskan dari penjara,” kata Bagas, yang mengaku setiap malam merasakan tikus-tikus bebas melintas di atas kakinya.

Penjara menjadi seperti neraka. Mama dan papa, serta paman, hampir setiap hari menjenguk untuk sekadar membawakan makanan. Tak terasa, satu bulan tinggal di balik jeruji besi, menunggu sidang pengadilan.

“Satu bulan ini saya mengeluarkan uang jutaan rupiah. Bukan cuma untuk membeli makanan untuk anak saya, tetapi juga untuk uang rokok polisi yang berjaga lho,” kata ibu Bagas, yang minta dirahasiakan identitasnya.

Akhirnya, Bagas dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Bagas semakin takut, waktu berlalu, persidangan kasus narkoba ini pun digelar.

“Pasti, tidak ada satu pun orangtua di dunia ini yang ingin membiarkan anaknya mendekam di penjara. Kalau perlu, uang puluhan bahkan ratusan juta akan dikeluarkan demi membebaskan atau setidaknya meringankan hukuman anaknya,” kata ibu Bagas.

Sebelum persidangan digelar, ibu Bagas yang sudah pinjam uang sana-sini berusaha menemui oknum jaksa penuntut umum. Waktu itu dia memberikan uang sekitar Rp 20 juta. Uang cash itu sudah terbungkus rapi di dalam sebuah amplop.

“Paling tidak, uang ini saya serahkan untuk sekadar meringankan hukuman,” kata ibu itu yang tidak menyebutkan nama oknum penegak hukum yang dimaksud.

Agaknya pantas diingat, tahun 1990-an seorang rocker cantik, Nicky Astria, dalam sebuah lagunya begitu keras melantunkan:

Jarum-jarum setan suka mencabut nyawa//Bila kau tak sadar berhenti memakainya//Tanpa kau sadari, tanpa engkau rasakan//Kau bunuh dirimu secara perlahan….

sumber: www.bnn.go.id

Orang Tua Setiap Hari Ribut

Ricky menghabiskan masa kecilnya di tengah keluarga yang broken home. “Masa kecil saya kacau banget. Orang tua saya setiap hari pasti ribut. ribut, dan ribut. Karena itulah, keributan menjadi hal biasa bagi saya,” ungkap Ricky. Selain broken home, Ricky kecil juga harus menghadapi kenyataan pahit jarang berkumpul dengan orang tua. Penyebabnya adalah karena dirinya sering dititipkan ke kerabat, dan otomatis ia selalu berpindah. Memasuki masa SMA Ricky mulai mencoba merokok. Kondisi mental yang sedang kacau ditambah pergaulan yang tidak baik, membuat kebiasaan merokoknya semakin menjadi. Awalnya orang tua Ricky tidak mengijinkannya merokok, tetapi akhirnya mereka menyerah. Menurut Ricky, awal dari kebiasaan memakai narkoba adalah merokok. “Soalnya waktu saya pusing, saya isep rokok. Kalau sudah gak mempan, saat itulah mulai mencoba-coba narkoba. Dan rata-rata tipikal pecandu narkoba di Indonesia seperti itu, diawali dengan kebiasaan merokok.” terang Ricky sambil menyeruput jus jeruknya.

Saat menginjak bangku SMA, Ricky pertama kali mencoba narkoba. “Kira-kira tahun 80-an. Waktu itu zamannya megadon (jenis narkoba, Red.), jadi saya pertama kali nyoba ya megadon (Mg) itu. Pertama kali nyoba sih rasanya pusing, bawaannya males banget, pokoknya gak enak banget deh, tuturnya mengenang.

Walau begitu Ricky tetap saja mengkonsumsi obat terlarang, sampai akhirnya ia pun kecanduan. Kondisi ini diperparah oleh lingkungan tempat tinggalnya. “Saya kenal narkoba pada saat saya tinggal di daerah PB, di Gg K. Gang itu tuh emang sarangnya bandar narkoba. Apalagi daerah sekitar rumah seperti Pc, KG, Ktn, BT (area di Jakarta Pusat, Red.). Semuanya daerah drugs.” ungkap penggemar klub sepakbola AC Milan ini.

Jadi Preman karena Narkoba

Mengkonsumsi Mg, jelas Ricky, membuat emosinya tinggi dan tidak stabil. Akibatnya, Ricky jadi sering ribut dengan orang lain dan selalu mengarah ke kontak fisik. Mulailah Ricky menekuni karirnya sebagai preman. Bersama teman-temannya, Ricky selalu meminta uang keamanan ke toko-toko di daerah PB. “Hasilnya saya pakai mabok sama teman-teman.” papar Ricky mengingat masa lalunya.

Memasuki masa kuliah, kebiasaan Ricky mengkonsumsi narkoba makin parah. la pernah tidak sadarkan diri selama sehari penuh karena meminum Mg dan menghisap ganja seukuran rokok kretek bersama temannya. Makin lama kebiasaannya ini membuat otaknya tidak dapat berpikir. Akhirnya ia keluar dari kuliahnya di salah satu universitas di kawasan Kuningan, Jakarta.

Sembuh Ditolong Teman Satu Gereja

Ricky menganggap dirinya masih disayang Tuhan. Karena di tengah keterpurukannya menjadi pecandu narkoba dan keluarga berantakan, masih ada orang yang mau menolongnya. Orang itu bernama ST, temannya di gereja. ST-lah yang mengajak Ricky untuk mengikuti acara gereja yang bernama TC, acara khusus untuk pemuda yang sedang kecanduan narkoba dan ingin sembuh. “Akhirnya saya mendapat jamahan dari Tuhan Yesus Kristus di gereja tersebut dan saya langsung mengutarakan niat saya untuk sembuh di hadapan Tuhan. Setelah itu saya langsung mengikuti rehabilitasi. Waktu itu saya dikarantina selama tiga bulan di daerah Cibubur, di bawah pengawasan pendeta dan pembina.” tutur Ricky.

Terapi yang dijalankan Ricky tidak melibatkan dokter sama sekali, karena waktu itu dokter khusus kecanduan narkoba belum ada di tempat rehabilitasi tersebut. la hanya mendapatkan segelas susu ketika tubuhnya mulai sakaw atau ketagihan. Awalnya susu itu pasti dimuntahkan kembali. Tetapi pembina di sana tetap membiarkan pasien mengalami sakaw, sampai sakawnya lewat. “Seperti itu setiap kali saya sakaw. Walaupun saya pingsan, atau mengerang kesakitan yang diberi ya hanya segelas susu,” Ricky menambahkan.

Pergi ke Amerika

Setelah mengikuti karantina pada tahun 85-an, kondisi kesehatan Ricky berangsur pulih. la tidak lagi memakai narkoba jenis apapun. Walaupun berulang kali ia mendapat godaan dari temannya, bahkan sampai dipukuli, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak memakai narkoba lagi. Waktu luangnya digunakan untuk bekerja. Sampai pada suatu saat, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang mempunyai piutang cukup besar yang macet selama dua tahun lebih. Kebetulan, ia memiliki teman seorang debt collector [penagih hutang, Red.). la lantas meminta bantuan temannya untuk menagih. Tidak disangka, dalam kurun waktu dua hari orang tersebut langsung melunasi utangnya, padahal hanya melalui dialog, bukan pendekatan fisik. Akhirnya Ricky mendapat bonus, ia diberi kebebasan untuk beiiibur ke luar negeri selama dua minggu, sebuah pengalaman yang ia anggap sebagai mujizat dari Tuhan Yesus Kristus. “Saya akhirnya milih Amerika, karena saya ingin sekali ke sana dan saya memang belum pernah ke sana,” ujar Ricky sambil tersenyum.

Akhirnya Ricky ke Amerika, dan menghabiskan waktu dua minggu bertamasya. Satu hari sebelum kepulangannya, Ricky berubah pikiran. la ingin menetap di Amerika. “Saya mutusin untuk tinggal lebih lama di Amerika, saya pengen sekolah di sana. Padahal waktu itu duit saya tinggal 100 dolar. Tapi karena bayar sekolahnya bisa dicicil, akhirnya saya berani. Duit saya yang tinggal 100 dolar itu, saya bikinin SIM sama KTP plus merubah visa saya dari visa kunjungan wisata ke visa pelajar, waktu itu kita tinggal nambah 45 dolar. Setelah surat itu jadi semua, saya langsung kerja jadi supir delivery service (layanan hantar, Red.) di Pizza Hut. Gajinya saya gunakan untuk bertahan hidup sama kuliah. Sejak itulah saya bisa kuliah di Amerika dan hidup selama kurang lebih 5 tahun di sana” ungkap Ricky panjang lebar. Di negeri Paman Sam itu, Ricky mengambil kuliah ekonomi. la tinggal di Los Angeles. Selama kuliah, ia juga mengikuti ekstra kulikuler sinema. Karena itulah ketika Ricky kembali ke Indonesia, ia langsung bekerja di salah satu rumah produksi terkenal di tanah air.

Membina Anak Jalanan Korban Narkoba

Saat ini Ricky disibukkan dengan aktivitas sosialnya membina anak-anak jalanan korban narkoba, bersama dengan rekan-rekannya dalam satu perkumpulan. Sebuah tempat di salah satu pusat perbelanjaan menjadi tempat nongkrong perkumpulan ini. Selain itu, Ricky juga tengah sibuk dengan Event Organizer (EO) miliknya yang bernama SME. Di bawah bendera SME, Ricky menangani sejumlah artis antara lain Sonja dan grup musik Senyawa.

Ricky bercita-cita memiliki rumah sebagai tempat singgah untuk anak-anak pecandu. “Saya pengen mereka semua bisa punya skill  dan pekerjaan tetap. Sehingga mereka bisa berguna dan bergabung lagi ke masyarakat. Jadi saya gak cuma nyadarin mereka untuk sembuh. Buat apa kalo setelah sembuh mereka gak bisa ngapa-ngapain?” Ricky mencurahkan pandangannya.

“Say no to drugs, jangan takut dibilang banci kalo gak pake daripada hidup lu hancur dan terpuruk karena narkoba!” tegasnya mantap, menutup obrolan sore itu

Banyak remaja mencoba narkoba, tanpa tahu bahayanya. Buku Go Ask Alice (PT Gramedia Pustaka Utama, 2004) ini mengungkap catatan harian Alice, seorang remaja putri Amerika, yang terjerat obat-obatan terlarang.

 Terbit pertama kali 30 tahun lalu, goresan tangan Alice tetap terasa menyengat. Alice sendiri ditemukan tewas tiga minggu setelah memutuskan tak menulis lagi di buku hariannya. Tak jelas dan tak ada yang tahu apa penyebab kematiannya.

 ***

Aku ingat, kemarin kuanggap diriku orang paling bahagia sedunia, segalaksi, di antara semua makhluk ciptaan Tuhan. Belum pernah kurasakan rumput seharum saat itu, dan langit setinggi itu. Roger mengajakku kencan! Aku serasa mau mati karena senangnya. Jadi, aku membeli diary (buku harian) ini, sebab kupikir aku punya cerita luar biasa yang layak disampaikan.

 Tapi sekarang, semuanya serasa runtuh. Roger tak jadi datang. Kenapa ia setega itu? Aku tak pernah sengaja menyakiti siapa pun, baik secara fisik maupun emosional. Lalu kenapa orang-orang begitu senang menyakiti aku? Bahkan kedua orangtuaku memperlakukan seakan-akan aku ini bodoh. Kurasa aku takkan pernah bisa memenuhi harapan siapa pun, termasuk harapanku sendiri.

Semua lancar

 Dua hari lagi ulang tahunku yang ke-15 tiba. Ada berita bagus, diary. Kami akan pindah. Dad diundang jadi dekan ilmu politik di sebuah universitas di Eropa. Mungkin Dad akan mengajar di Eropa tiap musim panas, dan kami bisa ikut dengannya. Aku akan diet mulai hari ini dan memperbarui koleksi pakaianku. Aku akan jadi benar-benar beda saat tinggal di rumah baru.

 Mom dan Dad sudah menemukan rumah baru, besar dan bergaya Spanyol. Adik- adikku, Tim dan Alexandria, tiba-tiba jadi manis dan tak merecokiku. Sekolah pun kembali jadi acara menyenangkan. Aku mendapat nilai A, bahkan untuk aljabar yang sebenarnya sulit. Aneh ya, sepertinya kalau satu hal lancar, hal lain ikut lancar. Bahkan hubunganku dengan Mom jadi lebih baik.

 Aku merasa lebih dekat denganmu, diary, daripada dengan Debbie, Marie, dan Sharon – teman-teman karibku. Terkadang aku sangat ingin punya pacar yang bisa kuajak bicara. Tapi orangtuaku tak setuju, dan jujur saja, tak pernah ada yang tertarik serius padaku. Mungkin juga tak akan pernah ada. Kalau sudah begitu, aku ingin sekali jadi populer, cantik, kaya, dan pintar.

 Natal! Aku sangat bahagia, dadaku serasa akan meledak. Aku mendapat hadiah buku, kaset, dan rok yang sangat kusukai. Mom sangat senang dengan hadiah bros dariku, sehingga dipakainya sepanjang hari. Nenek dan kakek berkunjung, juga Paman Arthur, Bibi Jeannie, dan sepupuku. Kalau saja perasaan ini bisa dialami sepanjang waktu. Ah, aku tak rela hari ini cepat berakhir.

 Pesta tahun baru di rumah Scott. Aku pulang lebih awal dengan alasan tak enak badan, tapi sebenarnya aku berdebar-debar memikirkan akan pindah dua hari lagi. Aku tak berani mengatakan ini pada siapa pun, diary, karena aku tak terlalu yakin bakal betah di kota baru itu. Oh Tuhan, tolonglah aku menyesuaikan diri, agar aku diterima, bantu aku agar kerasan, jangan biarkan aku dikucilkan dan jadi beban keluargaku.

Beratnya kota baru

 Kini aku sudah berada di kota baru. Diary, aku sangat menderita di sekolah. Tempat paling sepi dan dingin di dunia. Tak seorang pun mengajakku bicara selama sehari yang panjang. Aku sedih sekali. Tim, Alexandria, dan Mom sudah dapat teman baru. Ibarat minyak dan air, aku tak bisa menyesuaikan diri.

 Setelah tiga bulan, aku baru mendapat teman. Dia sama jelek dan canggungnya denganku. Benar juga kata pepatah, seseorang akan bergaul dengan orang-orang yang mirip dengannya. Suatu hari, Gerta menjemputku untuk ke bioskop, tapi keluargaku kasar sekali padanya. Mom menyindir temanku yang tak menarik dan biasa-biasa saja. Tak sadar bahwa anak perempuannya juga seperti itu. Mom yang necis, langsing, memikat serta istri profesor hebat, juga selalu membanding- bandingkan aku dengan Tim dan Alexandria. Sepertinya, aku tak memenuhi standarnya.

 Dua bulan kemudian, aku berkenalan dengan anak perempuan lain yang tinggal tiga blok dari kami. Beth Baum baik sekali, agak pemalu, dan lebih suka membaca buku daripada bertemu orang. Ayahnya dokter, jarang di rumah, persis Dad. Ibunya sering mengomel. Mom pasti bangga sekali denganku. Beth datang ke rumah untuk belajar bersama, dan keluargaku menyukainya! Mereka bahkan memintanya menelepon orangtuanya untuk makan malam dan berbelanja bersama kami!

 Beth teman yang menyenangkan. Ia mungkin satu-satunya karib yang kumiliki sejak kanak-kanak. Kami terbuka soal apa saja, termasuk kepercayaan Yahu- diIbrani yang ia anut, dan kakek-neneknya yang Ortodoks. Kalau saja aku tahu lebih banyak tentang agamaku, aku akan bisa ganti bercerita. Beth mengatur kencan untukku dengan Sammy Gran yang sopan, sehingga orangtuaku menyukainya. Padahal, begitu kami di mobil, kedua tangannya mulai gentayangan.

Api kampung halaman

 Musim panas tiba. Aku berlibur di rumah nenek dan belum pernah sebosan ini. Membaca, nonton teve, malas-malasan di tempat tidur. Aku benar-benar kehabisan kegiatan. Sharon sudah pindah, Debbie asyik pacaran, dan Marie berlibur bersama keluarga. Namun 10 hari kemudian, aku bertemu Jill Peters yang mengajak ke pesta kecil di rumahnya!

 Anak-anak di pesta sangat ramah, hingga aku kerasan. Tak lama Jill dan seorang cowok mengeluarkan senampan Coke. Semua anak bergelimpangan di lantai beralas bantal atau meringkuk bersama di sofa dan kursi.

 Jill mengedip padaku, “Malam ini kita akan bermain ?kancing?. Ingat ?kan permainan kita waktu kecil?” Semua orang saling memandang. Aku memusatkan perhatian pada Jill dan berniat me-niru apa pun yang ia lakukan. Tiba-tiba aku merasa seperti ada badai di tubuhku. Semua orang mulai memandangiku. Kedua telapak tanganku berkeringat, begitu juga kulit kepala dan tengkuk.

 Ruangan terasa sangat hening, ketika Jill bangkit untuk menutup tirai rapat-rapat. Otot di sekujur tubuhku menegang, dan perasaan aneh menyelimutiku, mencekik, membuatku sesak napas. Ketika kubuka mata, ternyata Bill Thompson merangkul bahuku. “Beruntungnya kamu ini,” katanya. “Tapi jangan khawatir, aku akan menjagamu. Perjalanan ini akan menyenangkan, ayo santailah, nikmatilah.”

 Pola-pola aneh berubah-ubah di langit-langit, berubah jadi warna-warna berputar- putar, semburat-semburat raksasa merah, biru, kuning. Setelah melewati saat- saat yang seolah tiada akhir, aku mulai turun dari perasaan melayang itu dan pesta pun usai. Kata Jill, 10 dari 14 botol Coke itu diberi LSD, dan siapa yang dapat “kancing”? Wow, aku! Sangat menyenangkan, mengasyikkan! Namun, kurasa aku tak bakal mencoba lagi.

 Diary tersayang, minggu ini sungguh fantastis, luar biasa, menggairahkan, mendebarkan. Ingat ?kan, aku kencan dengan Bill? Ia memperkenalkan aku dengan Torpedo pada Jumat, dan Speed di hari Minggu. Rasanya seperti menunggang bintang jatuh di Bima Sakti. Mulanya, aku agak takut mencoba Speed karena Bill harus menyuntikkannya di lenganku. Aku hampir tak bisa mengendalikan diri, menari-nari dengan gaya yang tak terbayang berani dilakukan oleh aku yang tertutup dan pemalu ini. Liar! Indah!

 Tiga hari kemudian, Bill meneleponku mengajak kencan. Aku memenuhi ajakan Bill, tapi aku akan jadi penjaga saja kalau ia teler. Di rumahnya yang kosong, karena ditinggal keluarganya yang sedang keluar kota, sudah ada enam anak lainnya. Semua ingin teler dengan Acid, maka kuputuskan ikut juga. Janji, untuk terakhir kalinya. Buntutnya, aku tak perawan lagi! Dari satu segi, aku sedih sekali, sebab sejak dulu aku ingin Rogerlah yang jadi cowok pertama dan satu-satunya dalam hidupku.

 Aku juga penasaran, apakah seks tanpa Acid akan sama menggairahkan dan indahnya. Sebelumnya, tak pernah terpikir olehku tentang hamil. Bill pasti tak bakal menikahiku, umurnya baru 15 tahun. Oh, rasanya aku ingin cepat pulang.

 Mom dan Dad bilang, aku sebaiknya pulang minggu depan saja. Tebak, siapa yang datang semalam? Roger dan orangtuanya menjenguk nenek yang kena serangan jantung. Perasaanku tak keruan, Roger ternyata tambah tampan. Roger bilang, ia selama setengah tahun ke depan akan masuk sekolah militer, sebelum siap kuliah. Lalu ia menciumku, ciuman seperti yang kuimpi-impikan. Menyiratkan rasa sayang, suka, gairah, hormat, kagum, lembut, dekat, dan rindu.

 Roger terus menyuratiku, tapi aku terlalu takut hamil, sehingga tak bisa tidur tanpa pil. Akhirnya, aku datang bulan! Belum pernah aku sebahagia ini. Sekarang aku tak perlu lagi menelan pil tidur dan obat penenang. Aku bisa kembali jadi diriku sendiri.

Bara kota baru

 Mom mulai cerewet lagi. Aku pergi ke sebuah butik kecil. Chris, cewek yang kerja di butik itu, mengajariku menggulung lurus rambutku. Aku sangat tertekan memikirkan Roger.

Ketika istirahat siang, kuceritakan kesedihanku pada Chris, yang langsung mengerti. Senangnya! Ia memberiku semacam permen kecil berwarna merah dan menyuruhku pulang. “Permen ini bakal membangkitkan semangatmu, kalau obat penenang ?kan meredam perasaanmu,” katanya.

 Di rumah, Dad dan Mom mengomel soal penampilanku yang menurut mereka mulai seperti hippie. Chris dan aku lalu mengobrol soal orangtua dan keluarga kami. Ayah Chris petinggi di perusahaan produk sereal. Ayahnya sering pergi keluar kota. Ibunya sangat aktif dalam kegiatan masyarakat. Chris bekerja karena tak tahan di rumah. Aku mulai merasakan hal sama. Chris bilang akan coba mencarikan pekerjaan untukku. Ini baru namanya hidup! Aku punya pekerjaan, bersama Chris di sebuah butik.

 Chris setahun lebih tua dariku. Kami kini termasuk dua cewek terpopuler di sekolah. Aku tahu penampilanku bagus sekali, langsing. Tiap kali lapar atau capek, aku cuma menelan sebutir Benny. Aku mesti minum Dexie biar tetap punya tenaga saat sekolah, kerja, kencan, dan bikin PR. Tapi di rumah, benar-benar bete. Dad menganggapku merusak citranya di universitas.

 Semalam benar-benar bersejarah. Aku mengisap ganja dari Richie, teman Chris yang tahu aku pernah mencoba Acid. Rasanya lebih luar biasa daripada yang kukira. Aku dan Chris jatuh cinta setengah mati pada Richie dan Ted yang sudah kuliah. Kami selalu ingin bersama. Karena tak pernah punya cukup uang, aku dan Chris terpaksa menjual sedikit ganja pada anak-anak yang memang pemakai berat. Aku meyakinkan Richie bahwa lebih mudah menjual Acid yang ditaruh di lembar perangko atau permen karet. Tak akan dicurigai polisi.

 Richie bisa mencarikan apa saja – ganja, LSD, DMT, amfetamin, barbs, meth. Menjual pada anak SMU atau SMP biasa kujalani, tapi hari ini aku menjual 10 LSD pada murid SD yang belum berusia sembilan tahun. Membayangkan anak-anak di bawah umur rusak karena narkoba membuatku muak. Kalau ada perlombaan tertolol, pasti aku pemenangnya. Apalagi saat Chris dan aku datang ke apartemen Ted dan Richie, memergoki kedua bajingan itu sedang teler sambil bercinta.

Jebakan San Fransisco

 Aku dan Chris duduk di taman. Kami mematangkan rencana kabur ke San Fransisco, dan aku mesti melaporkan Richie ke polisi. Bukan untuk balas dendam atau cemburu, tapi untuk melindungi anak-anak SD dan SMP.

 Di San Fransisco, kami tak kenal seorang pemakai pun, jadi akan lebih mudah agar tetap bersih. Chris punya AS $ 400 dan aku AS $ 130 yang seharusnya kusetorkan ke si bangsat Richie. Rasanya itu cukup sampai kami mendapat pekerjaan. Sementara, kami tinggal di apartemen satu kamar yang kotor, bau, dan pengap.

 Akhirnya, aku dapat pekerjaan di toko kecil sumpek yang menjual pakaian dalam. Gajinya sedikit, tapi lumayan utuk membeli makanan dan lain-lain. Chris masih mencari pekerjaan yang lebih bagus, karena dalam setahun kami berharap bisa buka butik sendiri. Ia akhirnya diterima di butik kecil bagus di daerah eksklusif. Ia belajar banyak tentang jual-beli dan cara menata barang jualan pada pemiliknya, Shelia, wanita tercantik yang pernah kulihat.

 Aku berjanji takkan pernah lagi memakai obat terlarang dalam keadaan apa pun, yang jadi akar penyebab permasalahanku sekarang. Aku mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik di toko batu permata milik Ny. Mellani yang ramah. Ia mengundangku makan malam pada hari Minggu. Ny. Mellani dan anak-anaknya persis seperti keluarga Italia di film-film. Ia pintar memasak. Belum pernah aku melihat keluarga yang begitu hangat dan akrab.

 Gantian Shelia mengundang kami ke pesta tengah malam di apartemennya yang indah dengan pemandangan luar biasa. Bel pintu berdentang, dan tamu-tamu cantik dan tampan berdatangan. Lalu aku mencium bau itu. Chris yang ada di seberang ruangan kulihat menoleh. Dia pun rupanya mencium bau itu. Ketika aku berbalik, seorang pria menyodorkan selinting ganja padaku … dan begitulah.

 Lalu datang Rod, pacar baru Sheila, memperkenalkan kami pada heroin dan Smack yang memberikan sensasi luar biasa. Begitu sadar, kedua bangsat itu telah memperkosa kami secara sadis dan brutal. Harga yang kami bayar terlalu tinggi. Chris dan aku memutuskan meninggalkan kehidupan kacau ini. Kami punya AS $ 700, mungkin cukup untuk membuka butik di daerah yang tak terlalu mahal. Kami menemukan apartemen mungil di Barkeley yang kami sulap jadi toko perhiasan bagi anak muda sekaligus tempat nongkrong.

 Suatu hari aku mendengar She’s Leaving Home dari stereo, dan air mata langsung membasahi pipi. Aku kesepian, sedih sekali. Tiga hari sebelum Natal, aku menelepon Mom. Ia senang sekali mendengar suaraku, menawari mengirimi uang dan meminta Dad menjemput. Aku bilang, uang kami cukup dan akan pulang dengan pesawat pertama malam ini. Kurasa ini sambutan paling meriah yang pernah ada. Kakek dan nenek bahkan menginap sampai Natal.

Surga dan neraka

 Minggu pertama Januari, aku sekolah lagi. Tapi esoknya Joe Driggs mendatangiku minta Chalk atau apa saja. Ada sekelompok berandalan yang berusaha memojokkan kami di sekolah, tapi Mom dan Dad serta orangtua Chris membesarkan hati kami.

 Minggu berikutnya, Lane memelintir tanganku sampai lebam, memaksaku mencarikan Cimeng (ganja). Siapa pun yang mengatakan kalau ganja dan Acid tak membuat ketagihan, berarti tolol dan tak mengerti. Aku dan Chris terjerat lagi.

 Lane kena ciduk semalam. Sepuluh hari kemudian rumah Chris digerebek saat orangtuanya keluar. Chris dan aku bersandiwara bahwa itu untuk pertama kalinya kami mencoba. Kami dapat hukuman percobaan untuk tak saling bertemu.

 Lalu aku mengambil AS $ 20 dari kantong celana Dad dan kabur ke Denver. Berganti-ganti tumpangan dan bergabung dengan anak jalanan ke Oregon, tidur di taman, meringkuk di semak sebelum akhirnya pergi ke gereja, dan disarankan ke Bala Keselamatan.

Tempat itu cukup menyenangkan. Di sana aku bertemu Doris. Dia menjalani kehidupan menyedihkan sejak usia 10 tahun. Ibunya sudah menikah empat kali, dan ayah tirinya mulai menggaulinya pada usianya 11 tahun. Lalu kedua abangnya dan temannya memperkenalkan Doris pada obat bius dan menjerumuskannya jadi lesbian. Sejak itu, ia bersedia buka celana bagi siapa saja.

 Dear diary, penyakit Doris ternyata menular. Aku akhirnya menjadi penjaja seks, dan terangsang juga pada cewek. Aku sempat bicara pada seorang pendeta tua yang benar-benar memahami anak-anak muda. Ia menelepon Mom dan Dad yang ternyata masih menginginkanku! Mereka menyayangiku! Tak ada kemarahan, tuduhan, dan nasihat. Minggu pertama April, dimulai diary baru dan hidup baru.

 Kakek dan nenek datang menjenguk cucunya yang hilang. Aku pun masuk sekolah lagi. Aku bertemu Jan di pusat kota, yang mengajakku “pesta” nanti malam. “Kami tahu kok, kamu pasti balik lagi,” katanya ketika kutolak, dan terus menggangguku di sekolah dengan mengatakan aku sok suci. Dad bilang, aku harus tabah dan dewasa, dan aku senang Dad peduli. Jan yang teler menggangguku saat menjaga bayi Ny. Larsen. Kesal, orangtuanya lalu kutelepon. Mereka memohon agar aku tak mengadu pada petugas pembebasan bersyarat yang menangani Jan.

 Tapi Jan balas dendam dengan mengancamku dan menyebarkan gosip yang membuat aku selalu dicemooh di sekolah maupun di jalan. Ada yang menaruh ganja menyala di lokerku. Bahkan seorang cowok mendorongku ke semak dan menciumku. Menjijikkan, tapi siapa yang akan menolongku? Untung aku berkenalan dengan Joel Reems di perpustakaan universitas. Ia cowok yang baik, membuatku ingin les piano lagi dan membantu Ny. Larsen memasak dan menjaga bayinya.

 Suatu ketika, aku masuk rumah sakit. Aku tak tahu, bagaimana Acid itu termakan olehku. Kata Dad, ada yang menaruhnya di kacang berlapis cokelat. Mom dan Dad percaya ada yang hendak mencelakaiku dengan obat bius.

 Aku dijebloskan masuk rumah sakit jiwa atas kesaksian Jan dan Marcie. Mereka bilang, aku sudah berminggu-minggu menjual LSD dan mariyuana pada mereka. Banyak perkataan yang memberatkan. Aku tak mengerti kenapa bisa begitu. Di Youth Centre aku berkumpul dengan sekitar 70 anak. Rasanya seperti gila sungguhan, menjalani peraturan dan sarapan yang tak sanggup kumakan. Aku berkenalan dengan Tom yang tampan dari keluarga bahagia yang terjerumus karena mencoba-coba.

 Satu-satunya hiburan, surat Joel yang membahagiakan. Ia hangat, baik hati, penuh maaf, sayang, dan pengertian. Dua minggu kemudian aku pulang. Kami sekeluarga mengikuti Dad yang mengajar dua minggu di kota lain menggantikan rekannya. Keluargaku menyiapkan kejutan menyenangkan untukku di hari ulang tahun. Mereka mendatangkan Joel, yang mencium bibirku di hadapan mereka!

 Dulu, kupikir aku akan membeli buku harian lain setelah kamu penuh. Tapi kini rasanya tidak, orang harus mampu membahas masalah dan pikirannya dengan orang lain. Bukan dengan bagian lain dirinya, seperti halnya aku dan kamu.

 Tak ada yang menyangka, ternyata itu menjadi kalimat terakhir yang ditulis Alice. Kalimat penutup “drama” yang dapat menjadi pelajaran buat “Alice-Alice” yang lain