Nama saya Arif. Mau tanya apa tentang narkoba? Semuanya sudah saya coba. Saya bukan mau nyombong, tapi emang kenyataannya begitu. Lagian apa yang mau disombongin, soalnya saya pernah hampir mati gara-gara itu. Cuma saya sulit menceritakan pengalaman mau mati itu. Orang tahunya saya over dosis. Saya baru menyadari kemudian, rupanya main-main sama putaw sama seperti permainan hidup dan mati. Efek putaw sangat keras. Sekali kena, walaupun cuma sekali coba, tunggu seminggu kemudian, pasti badan tahu-tahu terasa panas. Dari hanya coba-coba selama seminggu, orang akan langsung bisa merasakan sakaw atau kesakitan karena badan menagih minta diinfus putaw lagi. Kalau sudah begitu, artinya sudah ada ketergantungan untuk terus mengkonsumsi.

 

Menjual Barang Rumah

 Sudah 12 tahun saya pakai putaw. Selama itu, saya bergerilya mencari sendiri barangnya lewat teman. Awalnya, saya bisa membelinya dengan uang saku bulanan. Kalau sudah kehabisan, saya terpaksa menjual barang-barang apa saja yang ada di rumah. Tapi saya tidak tertarik ikut-ikutan mengedarkan, soalnya saya cuma ingin menikmati saja, nggak mau susah-susah.

 

Orang Tua Bercerai

 Saya mencari sesuatu yang bisa memberi rasa adem buat batin saya yang terluka. Pada masa remaja saya, orang tua membuat saya merasa begitu terkekang dengan larangan ini itu. Tapi ketika orangtua bercerai, saya tiba-tiba serasa kehilangan kendali yang selama ini mengikat saya. Saya merasa sangat bebas. Kemarin-kemarin, oke deh saya ngikutin aja dikekang sana-sini. Tapi begitu saya lihat keluarga sudah hancui; saya nggak tahu lagi mana yang baik, mana yang buruk. Maka mulailah saya bereksperimen, mencoba apa saja yang bisa bikin hati senang secara instan. DariSD saya sudah tahu asyiknya merokok, dan semasa SMP saya juga sudah mencicipi ganja dan akhirnya zat-zat kimia yang menyebabkan ketergantungan. Ketika masalah makin menumpuk di kepala, saya secara naluriah mencari sesuatu yang lebih cepat memberi efek yang mengendorkan syaraf-syaraf di kepala saya.

 

Keyakinan yang Salah

 Sewaktu kelas 2 SMA, orangtua saya berpisah. Sejak itu, saya tidak tinggal di rumah lagi. Saya memilih untuk ngekos. Di sini, 24 jam teman bebas datang. Karena tidak bisa menalak ajakan teman, saya jadi terbiasa keluyuran kemana-mana. Kalau lagi nongkrong, ya waktu kita habis buat minum-minum, nenggak obat megadon dan obat daftar G lainnya. Saya benar-benar nggak punya filter; jadi semua saya coba. Untuk meupakan masalah orangtua, pelarian saya, ya mabuk-mabukkan. Belum agi saya diilhami keyakinan yang salah selama masa pergaulan bebas itu, Ada pendapat kalau ngobat, kita malah jadi pintar Atau kita jadi jago matematka. Memang kedengarannya konyol, tapi tanpa saya sadari, keyakinan itu tertanam dalam diri saya. Perasaan saya setelah pakai obat itu, saya jadi orang ganteng dan jago ngomong. Bawaannya, saya mau dandan atau belanja terus.

 Saya merasa terpukul sekali melihat orangtua bercerai. Dulu ayah saya mendidik saya dengan keras. Makanya, sejak SMP saya sudah sering berontak dengan kabupkaburan dari rumah. Tapi begitu keluarga berantakan, saya jadi bisa benapbenar bebas. Saat itulah saya mulai coba-coba. Awalnya waktu SMP saya coba cimeng (ganja). Saya belum suka minum waktu itu. Waktu SMA meningkat lagi dengan obat-obatan sampai saya hampir ketergantungan dengan obat daftar G, seperti megadon dan rohipno. Meski efek tidak sampai bikin sakit badan, tapi waktu saya mulai mengkansumsi, saya jadi susah tidur Akhirnya supaya saya bisa tidur; saya mesti minum obatobatan itu lagi.

 Dulu sih mudah mencari barangnya, karena penjualnya suka nongkrong dekat sekolah. Karena sering transaksi dengan penjualnya, saya serasa mendapatkan teman yang selalu ada sewaktu dibutuhkan. Padahal urusannya kan seputar obat saja. Yah, namanya juga lagi mabuk. Bahkan karena umur mereka yang jauh lebih tua, saya menganggap mereka sudah seperti abang. Waktu itu rasanya bangga kalau bisa bergaul dengan orang yang lebih tua. Ini sebagian akibat jauh dari rumah, sehingga saya tidak punya lagi figur yang dituakan. Apalagi saya tidak punya abang atau kakak. Sedangkan adik saya umurnya 9 tahun di bawah saya. Selain itu kiblat saya juga sudah salah. Saya suka menyama-nyamakan diri dengan musisi rock kayak Jim Morisson yang terkenal pecandu berat narkoba dan matinya juga karena overdosis. Jadi saya tambah bangga kalau hidup saya bisa mirip dengan dia, yang tiap hari mabuk atau ngeganja. Bam pada tahun 97-an saya mencoba putaw, bersamaan dengan mulai beredarnya putaw di pasaran.

 

Putaw

 Akhirnya saya terjerumus ke putaw setelah sebeumnya saya berganti-ganti memakai shabu dan semua obat daftar G. Begitu saya kena putaw, saya tidak bisa lepas lagi dari situ. Walaupun orang masih pakai ganja atau shabu, kalau dia sudah pernah pakai putaw, ya dia akan kembali ke putaw lagi. Jadi yang dominan itu pasti putaw.

 Pengalaman saya waktu sakaw atau sedang nagih ialah badan terasa pegal-pegal, merinding sampai tulang, air mata dan ingus mengucur Kalau orang umumnya kepanasan jam 12 siang, saya maah merinding kedinginan. Terus pinggang kayak sedang mengangkat beras sekarung. Secara psikis, emosi saya datapdatar saja, tapi pengen melukai badan. Saya jadi paranoid. Sepanjang hari dihinggapi perasaan takut. Kalau siang saya sakaw, mungkin malamnya saya akan sakaw lagi. Tahun 97 saya masuk panti rehabilitasi pesantren terkenal di Jawa Barat. Metode penyembuhan yang diterapkan di sana, di antaranya saya diwajibkan berzikir setiap jam 2 pagi, lau dibangunkan untuk mandi air gunung, selebihnya saya menjalani shoat sunah dan sholat lima waktu yang selalu disambung dengan zikir selama setengah jam. Di pesantren, saya cuma bertahan seminggu. Karena saya merasa ada yang tidak beres dengan praktek evaluasi yang dilaporkan pengurus kepada orang tua saya. Tahun 98 saya pernah overdosis setelah keluar dari pesantren. Dua minggu saya dirawat di rumah sakit. Waktu itu saya mau dikembalikan lagi ke sana, tapi saya berontak. Saya ingin seperti orang normal lainnya, walaupun sedang susah tapi tetap bisa tinggal sama keluarga. Pada tahun itulah, saya akhirnya pulang ke rumah ibu. Keluar dari rumah sakit, saya kambuh lagi. Tahun 98/99 saya berobat ke psikiater terkenal di Jakarta. Di sini saya mesti menjalani terapi obat yang sifatnya memblokade badan dari zafrzat adiktif Tapi karena badan saya tidak sanggup menahan obatnya yang keras sampai bikin halusinasi tinggi, saya menyerah. Sebelum berangkat haji tahun 2002, saya kembali direhabilitasi di satu yayasan khusus korban narkoba di Jawa Barat.

 

Rehabilitasi

 Panti rehabilitasi bisa dikatakan berhasil membuat saya tidak mengkonsumsi lagi. Tapi itu karena saya dikurung! tidak bisa kemana-mana. Setelah keluar dari sana, terus naik haji, saya tokh tetap katnbuh lagi. Lalu saya bilang satna keluarga kenapa kalau saya berobat, saya mesti dikurung. Kenapa tidak coba di rumah saja dengan niat sendiri. Jadi saya tidak mau lagi rehabilitasi dengan cara dikurung! Sebab selesai rehabilitasi, saya selalu punya masalah sosialisasi. Pada masa-masa seperti ini, saya bingung sehingga mutar-mutar menghabiskan waktu kesana-kesini. Jadi walaupun badan sudah tidak menagih, saya akhirnya mencari barang itu lagi. Mungkin karena tidak ada kegiatan, saya mencari teman-teman lama saya yang masih jadi pemakai. Pada akhirnya saya pikir kenapa saya tidak rehabilitasi diri dengan program sendiri saja sambil tetap bersosialisasi.

 Selama ini saya mau ikut rehabilitasi karena saya sudah capek sekali dan merasakan sakit yang parah. Ditambah saya sendiri memang bingung mau berbuat apa. Karena bujukan orangtua, saya bersedia diobati. Tapi munculnya keinginan sendiri untuk sembuh, baru setahun belakangan ini. Selama itu pula saya mencari sarana yang tepat untuk keluar dari ketergantungan ini. Akhirnya saya diperkenalkan pada metode penyembuhan self-hypnosis. Kalau tadinya bisa dibilang mental saya mudah jatuh karena sosialisasi yang buruk, begitu mengikuti self-hypnosis, saya dapat menghipnotis diri saya sendiri untuk menguatkan mental saya.

 

 Hipnosis

Sudah empat bulan saya terus-menerus mempraktekkan self-hypnosis dengan menanamkan sugesti bahwa saya bisa sembuh… saya bisa sembuh. Hasilnya, dari setengah jam sekali saya pakai putaw, setelah menjalani self-hypnosis, dibantu beberapa pelatihan dan dukungan teman, dosis pemakaiannya berkurang menjadi dua hari sekali, lalu beberapa minggu kemudian secara bertahap, empat hari sekali. Sekarang saya sedang mencoba seminggu sekali, baru setelah itu saya menargetkan untuk berhenti sama sekali.

 Buat orang yang pernah kecanduan, apa yang ingin kita capai tidak semudah mengatakannya. Pikiran saya tidak seperti orang normal. Pada saat penurunan dosis, pikiran saya sering bercabang dua. Misalnya ketika satu pikiran sedang diarahkan untuk mengetik, pikiran yang lain mencari-cari barang itu. Tiap hari hal seperti itu bisa terjadi, karena itu saya terus bicara meyakinkan diri saya sendiri, “Oke Arif, kamu bisa melawan ini” Untuk itu saya harus membuat program sendiri dan berjuang keras untuk menjalankannya sendiri. Sebab keinginan untuk pakai itu masih ada, dan kalau mau diikuti, sekecil apapun targetnya untuk mengurangi dosis, tidak akan pernah terpenuhi.

 Proses self-hypnosis biasanya saya lakukan sebelum tidur Saya menghipnotis diri sendiri agar besok pagi saya bangun dalam keadaan segar bugar Karena yang terjadi pada pemakai, ketika orang lain bangun pagi dengan segar; dia malahan merasa badannya sakit semua. Terbukti, setelah saya menghipnotis diri dengan mengatakan pada diri saya sendiri, “Besok pagi kamu akan bangun dalam keadaan segar bugar, sehat walafiat dan bisa menjalankan hari-hari kamu esok hari” Saya juga melakukan self-hypnosis pada saat datang masalah yang bisa bikin saya syok sementara saya menjalani hari. Saya bilang, “Oke Arif, kamu bisa menyelesaikan masalah ini, kamu akan kuat, dan bisa melewati semuanya”.

 Sekarang, seminggu sekali saya masih pakai. Pasti orang akan bertanya, kenapa tidak sekalian saja berhenti total? Sulit menjelaskannya. Sebenarnya dalam waktu dua minggu sejak tidak lagi mengkonsumsi, sakit badan sudah hilang. Tapi psikis rasanya oleng. Misalnya kalau kepala sudah terasa penuh oleh masalah, saya ingin segera mengendorkannya. Pada saat itu pilihan saya tidak banyak. Namanya juga ketergantungan. Pokoknya saya menghindari pengobatan kimia sebab kalau saya kena zat kimia lagi, itu berpengaruh pada kesadaran saya. Sementara saya baru bisa mengontrol diri kalau dalam keadaan sadar Alternatif lainnya, saya suka diterapi dengan pijat refleksi untuk pelancaran darah dan juga akupuntur.

 Tolong doakan, agar saya bisa pulih dan menjalani kehidupan normal seperti layaknya Anda-anda semua.